Sunday, 23 September 2018

Polisi Miskin Ini Tolak Rp 10 Juta dari Bandar Narkoba

Rabu, 11 Juli 2018 — 1:30 WIB
Bripka Anwar, Kasi Humas Polsek Babelan. (lina)

Bripka Anwar, Kasi Humas Polsek Babelan. (lina)

TERLAHIR dari keluarga sederhana, memaksa sulung dari lima bersaudara ini banting tulang sejak duduk di kelas V SD. Dia pernah jualan es mambo, bahkan juga memulung botol bekas demi membeli seragam sekolah.

Ayahnya, almahum Mamat Syahudin, guru di SD di Babelan, Bekasi, Jawa Barat. Sedangkan ibunya Kamih, mengurusi rumah tangga. Sejak kecil, Awar Fadilah,36, ingin menjadi polisi. Demi mewujudkan cita-citanya itu, dia bekerja serabutan membiayai sekolahnya, sebelum akhirnya menjadi anggota Polri dengan pangkat Brigadir Kepala (Bripka).

“Dulu, saking tak punya uang buat beli seragam, saya jualan es mambo keliling kampung, usai pulang sekolah,” kenangnya. Saat musim hujan, dia menjadi pemulung botol bekas minuman. Uang hasil keringatnya, dia belikan seragam dan buku sekolah.

Mencari ’uang sekolah’ dilakoninya hingga lulus SMA. Selepas SMA, dia mendaftar Sekolah Calon Bintara (Secaba), namun gagal. Kegagalan tak membuatnya patah arang, Sambil menunggu pendaftaran tahun depan, Anwar menjadi petugas keamanan di sebuah kompleks perumahan. Tekadnya yang kuat menjadi anggota Korps Bhayangkara, memaksanya berlatih keras terutama fisik dan melahap semua buku ilmu pengetahuan.

“Alhamdulillah, pada 2003 saya diterima di Secaba,” ucapnya. Selama bertugas di jajaran Polda Metro Jaya, lebih dari setengah gajinya diberikan ke ibunya, membantu ekonomi keluarganya.

“Sisanya saya tabung buat biaya kuliah dan menikah,” ucapnya.
DITAWARI UANG

Pada 2008, dia mendapat pengalaman berharga selama menjadi polisi. Kala itu dia menangkap pengedar narkoba. Saat digelandang ke mapolsek, pengedar itu berusaha menyuapnya agar tak dijebloskan ke sel.

Anwar ditawari Rp10 juta dengan imbalan pengedar tersebut tak dibawa ke kantornya. Uang sebesar itu baginya sangat besar, apalagi dia tulang punggung keluarganya setelah ayahnya meninggal. Saat itu, dia juga butuhkan uang buat biaya ibunya yang terbaring di rumah sakit. Namun, dia tak tergiur.

“Orangtua selalu mengajarkan jangan tinggalkan salat lima waktu, jujur bekerja, dan berbaik sangka terhadap sesama, apa pun halangannya akan dilancarkan Allah SWT. Saya bahagia dan puas dengan gaji bintara,” ujarnya. Kejujuran Anwar inilah, salah satunya memikat hati Zubaedah, pegawai penyuluh Kementerian Agama Kabuaten Bekasi.

Gadis ini pun bersedia dipersuntingnya. Kini pasangan Anwar dan Zubaeda dikaruniahi tiga anak. Meski kini ekonomi rumah tangganya lebih baik dibandingkan masa kecilnya, tak membuat Anwar lepas tanggung jawab sebagai ‘bapak’ bagi empat adik-adiknya. Dia masih rutin menyisahkan gajinya buat menbantu ibu dan adiknya yang masih sekolah.

Kini, sebagai Kasi Humas Polsek Babelan, bersama Kapolsek Kompol Ardi Rahananto, dia meluncurkan blog babelankotakita.com. Berisi, pemberitaan kinerja Polsek Babelan, Polres Bekasi Kabupaten dan Polda Metro Jaya. “Kami berkewajiban menyebarkan informasi, agar masyarakat dapat melihat nyata kerja polisi,” ucap sarjana hukum ini. (lina/iw)