Tuesday, 20 November 2018

China Kaget Trump Intensifkan Perang Dagang

Kamis, 12 Juli 2018 — 10:50 WIB
Presiden AS, Donald Trump. (ist)

Presiden AS, Donald Trump. (ist)

CHINA – Trump intensifkan perang dagang dan akan umumkan rencana baru bea masuk,   Pemerintah Cina mengaku sangat kaget. Kondisi ini diprediksi memicu perang dagang antara dua negara itu.

Beijing menyebut ancaman AS ‘sama sekali tak dapat diterima’ dan dapat berdampak buruk bagi perekonomian global.

“Tindakan AS menyakiti kami, dunia, dan negara mereka sendiri,” kata otoritas Kementerian Perdagangan Cina.

Ia mengatakan pemerintah Cina perlu mengambil langkah balasan yang tepat.

Pernyataan itu muncul setelah AS membuat rincian tarif untuk produk ekspor Cina ke negara mereka yang bernilai sekitar 200 miliar atau dolar AS atau Rp2,875 triliun.

AS berencana menerapkan bea masuk itu September mendatang. Langkah itu diambil beberapa hari setelah AS dan Cina saling membebankan tarif sebesar miliar dolar AS (Rp489 triliun) untuk produk ekspor.

Daftar yang dibuat AS memuat lebih dari 6.000 produk, termasuk makanan, air minum, dan tas.

Masyarakat dapat menanggapi daftar produk itu hingga akhir Agustus sebelum bea masuk yang dibebankan 10% tersebut berlaku.

Pasar modal Asia jatuh tajam Rabu ketika menghindari risiko di tengah tensi tingggi antara dua negara maju itu.

Di Cina, indeks Hang Seng terkoreksi 1,6% sedangkan indeks Shanghai Composite jatuh hingga 2% sementara indeks Nikkei turun 1,2%.

Gedung Putih menyebut penerapan bea masuk baru itu adalah respons mereka terhadap praktik dagang curang Cina.

AS ingin Cina menghentikan dugaan alih kekayaan intelektual, baik desain dan ide produk, ke perusahaan asal Cina. AS tak setuju pada syarat perusahaan asing berbagi kepemilikan dengan rekanan lokal agar dapat masuk ke pasar Cina.

Perwakilan perdagangan AS, Robert Lighthizer, menyebut tak ada alasan di balik rencana Cina membalas strategi dagang itu.

“Dahulu, AS bersedia ikut serta mengupayakan resolusi atas kecurangan dagang Cina dan agar mereka membuka pasar untuk produk kami. Saat ini, kami akan tetap waspada dalam mempertahankan hak pekerja dan pelaku bisnis kami untuk berkompetisi dalam hubungan timbal balik yang adil,” kata Lightizer.

Kekhawatiran Meningkat

Banyak perusahaan AS menentang penggunaan tarif untuk melawan Cina. Mereka menilai strategi itu dapat beresiko buruk bagi usahawan dan perekonomian, tanpa jaminan Cina mengubah perilaku dagang.

Setelah bea masuk sebesar 34 miliar dolar AS  berlaku sejak Jumat pekan lalu, AS akan mempertimbangkan penerapan bea masuk baru untuk produk Cina yang bernilai sekitar 16 miliar  dolar AS atau Rp230 triliun.(Tri)