Wednesday, 14 November 2018

Dukung Sidang Gugatan Tanah, 1000 Petani Ampera Datangi PN Indramayu

Kamis, 12 Juli 2018 — 12:53 WIB
Seribu petani Ampera Geruduk PN Indramayu.(taryani)

Seribu petani Ampera Geruduk PN Indramayu.(taryani)

 INDRAMAYU  – Sekitar 1.000 orang petani dari sejumlah desa penyangga lahan kebun tebu yang digarap Pabrik Gula (PG) Rajawali Jatitujuh memadati halaman PN Indramayu hingga meluber ke jalan Jendral Sudirman, Kamis (12/7/18) pukul 10:20 WIB.

Kedatangan massa dari desa-desa itu diangkut 13 truk. Tujuan kedatangannya untuk memberi dukungan terhadap sidang pertama gugatan pengelolaan tanah milik  Perum Perhutani Indramayu yang sejak lama ditanami tebu oleh PG  Rajawali Jatitujuh.

Lahan itu jadi rebutan antara PG Rajawali Jatitujuh dengan masyarakat desa penyangga. “Kami masyarakat desa penyangga seharusnya diberi kesempatan menggarap lahan kebun tebu itu demi kesejahteraan masyarakat. Banyak warga desa penyangga yang miskin karena hanya jadi penonton dan tidak diberi kesempatan menggarap lahan kebun tebu sejak dikuasai PG Rajawali Jatitujuh,” kata Pembina Ampera, Ahmad.

Dikatakan, lahan kebun tebu milik Perum Perhutani itu menjadi obyek sengketa, karena Ampera melakukan gugatan perdata di PN Indramayu terhadap lawan atau tergugat PG Rajawali Jatitujuh.

Sengketa garapan yang menjadi obyek gugatan petani itu luasnya 6.200 Hektar lebih.

Lahan tanah itu sejak lama digarap dan ditanami tebu oleh  PG Rajawali Jatitujuh. Padahal di sisi lain para petani tang tinggal di desa penyangga  tergabung dalam wadah Ampera ingin  pula menggarap lahan itu untuk ditanami padi dan palawija.

Kapolsek Cikedung Ipda I.G Indrayana saat mengawal para petani menuju PN Indramayu berpesan agar selama memberi dukungan menghadiri sidang perdana gugatan lahan kebun tebu tidak berbuat melanggar hukum.

“Bapak-bapak dan Ibu-ibu harus tertib. Jangan anarkhis. Bersikap yang sopan santun supaya orang lain simpati ke  kita,” katanya. “Jika bapak atau ibu berbuat melanggar hukum maka itu yang akan dimunculkan ke permukaan.”

Ketua Ampera, Nono Mas Boy mengemukakan, Ampera dibangun untuk menjunjung tinggi nilai-nilai 4 pilar kebangsaan. Karena itu jika pada hari ini ada anggota Ampera yang berbuat melanggar hukum itu bukan anggota Ampera.

Kata Nono, masalah gugatan tanah kebun tebu melawan PG Rajawali Jatitujuh itu sedang diuji di PN Indramayu. “Menang atau kalah kita sedang uji. Selagi masih ada perangkat hukum kita ikuti. Tidak perlu berperang, seperti zaman dulu,” kata Nono.

Ia melanjutkan, hari ini petani Ampera sedang menempuh payung hukum untuk menentukan keputusan penegak hukum dalam mengadili lahan garapan yang dikuasai PG Rajawali Jatitujuh. “Semua orang tahu yang berjuang tanah itu Ampera,” katanya. (taryani/tri)