Saturday, 22 September 2018

K-pop Mendorong Lonjakan Kursus Bahasa Korea

Kamis, 12 Juli 2018 — 17:23 WIB
Keinginan untuk mempelajari lirik lagu populer K-Pop seperti Gangnam Style melonjakkan ketenaran bahasa Korea.

Keinginan untuk mempelajari lirik lagu populer K-Pop seperti Gangnam Style melonjakkan ketenaran bahasa Korea.

AMERIKA – Bahasa Korea semakin populer dengan melonjaknya pengajaran di berbagai pelosok dunia, terutama didorong oleh semakin digemarinya bintang-bintang pop negara itu.

Keinginan untuk mempelajari lirik lagu populer K-Pop seperti Gangnam Style melonjakkan ketenaran bahasa Korea di berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Kanada, Thailand, dan Malaysia.

Sebuah laporan Modern Language Association menunjukkan pembelajaran bahasa Korea di berbagai universitas AS naik hampir 14% antara tahun 2013 dan 2016, sementara pengajaran bahasa-bahasa lain mengalami penurunan.

Data terbaru menunjukkan 14.000 mahasiswa mempelajari bahasa Korea di AS, dibandingkan dengan 163 orang pada dua dekade sebelumnya.

Situs internet pelajaraan bahasa Duolingo, misalnya, meluncurkan kursus bahasa Korea tahun lalu karena peningkatan permintaan dan lebih 200.000 orang langsung menyatakan ketertarikannya.

Peningkatan permintaan di universitas

Profesor Andre Schmid menyaksikan lonjakan di University of Toronto, Kanada, tempat dia meneliti sejarah Korea.

Ketika 10 tahun lalu universitas memperkenalkan kelas bahasa Korea, muridnya berjumlah 30 orang namun sekarang sekarang ada 150 murid dan antriannya jauh lebih panjang lagi.

Juga terjadi peningkatan yang sama terkait dengan jumlah orang yang belajar sejarah Korea.
Prof Schmid mengatakan hal ini didorong kepopuleran musik serta drama pop Korea, dan dia mencatat internet telah menyebar kegilaan K-pop ke tempat-tempat yang tidak terduga.

“Di antara murid-murid saya ada seorang perempuan muda yang besar di rumah pertanian terpencil di Grey County Ontario, tetapi dia memilih University of Toronto karena dia ingin mengetahui hal tentang Korea,” kata Prof Schmid.

“Itu tidak pernah terjadi 15 tahun lalu. Gejala ini dimungkinkan peningkatan YouTube, sehingga orang seperti dia dapat mengakses produk budaya ini di tempat terpencil,” katanya.(BBC)