Saturday, 17 November 2018

Mau Jadi Keturunan ‘Senang’?

Kamis, 12 Juli 2018 — 5:15 WIB
narik becak

SELAYAKNYA jalan raya, kalau ada tanjakan naik, pasti akan ada turunan, atau jalan menurun. Naik turun, seperti di daerah Puncak, Jawa Barat. Nggak aneh,ya?

Dulu, ada gurauan. Siapa  orang yang termasuk ‘turunan senang’? Jawabnya, bukan orang kaya, atau yang banyak duit, akan menurunkan kesenangan pada anak-anaknya.

O, ternyata bukan itu jawabnya. Tapi, orang-orang  ‘turunan’ senang adalah para tukang becak. Mengapa? Ya, ketika mereka narik becak di jalan menurun, nggak perlu meng-goes atau menggenjot pedal, becak sudah meluncur dengan deras. Jadi, ya senanglah karena nggak mengeluarkan tenaga. Tinggal menyetir saja, atau pegang rem?

Boleh tertawa atau tersenyum, tapi nggak boleh mengeluh karena sekarang ini lagi zaman ’naik’. Anak sekolah naik kelas, yang kuliah naik tingkat. Dan yang pusing tentu saja para orang tua, apalagi sekolah mereka di swasta yang harus membayar penuh alias nggak gratis.

Ini dia para ibu rumah tangga yang pusing. Cabe, bawang merah, bawang putih juga naik lagi? Sembako yang lain, seperti telur juga nggak ketinggalan, naik,naik, ke puncak gunung. Nah, biasanya kalau sudah naik, lupa turun?

Apalagi yang naik? O, dolar juga naik. Ya, itu maka semua yang dibayar pakai dolar pasti harganya naik. Impor barang apa saja, yang dibeli dari luar negeri pasti naik. Kalau begitu ini tantangan buat semua pihak agar semua kebutuhan pokok bisa dihasilkan di negeri sendiri. Jangan semua harus beli dari luar? Sementara uang yang buat membeli  dari mana?

Apa? Ngutang? Ah,  bergurau lagi. Kalau begitu, semua serba naik,dong? Utang negara juga naik? Hemm, jangan bercanda,ah!  -massoes