Monday, 16 July 2018

MUI Belum Terima Hasil Penelitian 41 Masjid Pemerintah Terpapar Paham Radikal

Kamis, 12 Juli 2018 — 11:42 WIB
Wakil Ketua Umum MUI  Zainut Tauhid Saadi.(Ist)

Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Saadi.(Ist)

JAKARTA –   Terkait 41 mesjid pemerintah yang terpapar paham radikal, sampai detik ini MUI (Majelis Ulama Indonesia) belum menerima hasil penelitian tersebut sehingga belum bisa banyak memberikan opini terkait dengan temuan tersebut.

“Jika hasil penelitian tersebut benar maka hal tersebut sangat memprihatinkan dan menyedihkan,”  kata Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi di Jakarta, Kamis (12/7).

Zainut menjelaskan MUI mengajak kepada semua pihak khususnya kepada para khatib untuk menjadikan masjid sebagai tempat untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan dan ketaatan kepada Allah SWT.

“Menanamkan nilai-nilai kasih sayang, toleransi, akhlak mulia dan cinta tanah air. Bukan untuk menebarkan permusuhan, ujaran kebencian, fitnah dan propaganda paham keagamaan yang justru dapat mempertajam perbedaan dan perselisihan,” ucap Zainut.

MUI juga kembali mengingatkan kepada seluruh umat Islam untuk waspada dengan adanya kelompok yang secara sistematis, terstruktur dan masif menyebarkan paham radikalisme dan ekstrimisme, karena paham tersebut sangat berpotensi memecah belah umat dan mengancam NKRI.

Menurut Zainut,  MUI berpandangan radikalisme dan ekstrimisme bisa diartikan sebagai paham atau aliran agama yang menginginkan perubahan baik sosial maupun politik secara cepat dan ekstrim dengan cara kekerasan.

“Radikalisme dan ekstrimisme seringkali dialamatkan kepada kelompok agama yang menyukai cara kekerasan, sehingga tidak jarang menimbulkan gesekan dan konflik horisontal di tengah masyarakat,” terang Zainut.

Untuk hal tersebut MUI meminta kepada kementerian, lembaga pemerintah dan BUMN untuk secara serius melakukan pengawasan terhadap masjid yang berada di bawah kewenangannya untuk dipastikan dikelola oleh pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang terbebas dari paham radikal dan akstrim.(Johara/tri)