Monday, 23 July 2018

Politik Sportif dan Santun

Kamis, 12 Juli 2018 — 6:25 WIB

PENYELENGGARAAN event olahraga tingkat Asia yang sebentar lagi berlangsung di Jakarta dan Palembang  – dimana Indonesia menjadi tuan rumahnya –  selayaknya memberikan inspirasi kepada elite kita tentang pentingnya budaya sportif dalam berpolitik.
Budaya sportif dalam berpolitik – atau sikap berpolitik sportif  – merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya politik kooperatif  dan sistem demokrasi yang kita miliki yaitu demokrasi Pancasila.
Sikap berpilitik sportif harus terus ditumbuh-kembangkan untuk menolak kecenderungan praktik politik curang, saling menjatuhkan. Tidak sportif.

Tanpa landasan budaya sportif – yaitu legowo menerima keputusan menang dan kalah – maka proses demokrasi akan mengarah pada sikap “menang-menangan” yang mengarah pada kekacauan dan anarki.

Menarik untuk menyimak pernyatan inspiratif : lawan dalam olahraga adalah teman dalam bermain. Di arena pertandingan, para atlit bertarung saling mengalahkan dan saling menjatuhkan, namun di luar arena mereka berteman. Bahkan,  seusai menerima keputusan juri, mereka saling berpelukan.

Lawan dalam politik di Tanah AIr adalah saudara sebangsa yang membangun negara kesatuan kita. Sesama warga Indonesia.
Para politisi dan tokoh-tokoh berpengaruh, terutama yang sedang mendapat dukungan massa besar,  seharusnya melakukan pendidikan politik sportif, kepada kader-kadernya dengan memberi contoh langsung berpolitik sportif dan santun.

Politik sportif dan santun diwujudkan dengan penampilan dan perilaku sehari-hari yang tidak mengganggu, mengintimidasi lawan politik di tengah arena. Dukungan dalam bentul “yel yel” kepada jagoannya adalah penyemangat dalam upaya memberikan dukungan energi, bukan menakuti lawan yag sedang bertanding.

Etika politik sportif yang perlu dikembangkan adalah perilaku politik yang sesuai dengan koridor demokrasi Pancasila yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, agama, dan sopan santun.

Kita menolak demokrasi ala liberal, demokrasi ala komunis : yang menghalalkan segala cara, demokrasi yang memancing konflik, kerusuhan dan kekakacauan.

Demokrasi Pancasila memberi nuansa persatuan dan stabilitas. Perilaku politik yang merusak, mengganggu keamanan dan membuat kacauan, pasti bukan watak dan sikap demokrasi Pancasila.

Sejak dulu maupun sekarang, rakyat sangat mendambakan suasana aman dan tertib. Guyub rukun dengan sesama, mudah mendapatkan sandang pangan.

Di era ketika hak asasi diutamakan, maka hak asasi rakyat adalah mendapatkan penghidupan yang layak, bebas dari segala macam ancaman.

Semua itu bisa didapat jika para elite menjaga perilaku politik yang sportif, tidak curang, dan menjunjung tinggi kesantunan. *