Thursday, 20 September 2018

Bagaikan Jago Belum Bertaji, AHY Belum Saatnya Nyapres

Jumat, 13 Juli 2018 — 6:53 WIB
adu jago

MENJADI Capres maupun Cawapres itu harus punya prestasi dulu buat negara. Maka PDIP pun menilai, pencalonan AHY anak SBY sebagai Capres maupun Cawapres, belum saatnya. Nyapres sekarang karena didorong-dorong sang ayah yang mengandalkan nama besarnya,  ini kan bagaikan  jago belum bertaji tapi sudah dipaksakan bertarung.

Nama besar sang ayah tak menjamin keberuntungan bagi sang anak. Megawati yang menjual nama besar Bung Karno, gagal menjadi presiden lewat Pemilu. Sekali pernah hampir jadi, tapi karena kesandung “poros tengah”-nya Amien Rais, yang jadi justru Gus Dur. Megawati pernah jadi presiden juga karena kecelakaan politik, sehingga dia melanjutkan kepemimpinan Gus Dur. Ketika maju sendiri, di Pilpres 2004 dan 2009 selalu gagal.

SBY yang ingin membangun dinasti, memaksakan diri menggotong-gotong AHY putranya, untuk menjadi pemimpin Indonesia. Gagal di Pilgub DKI tak membuatnya kapok, kini dipaksakan maju ke Pilpres 2019. Kalau bisa Capres, tapi paling apes Cawapreslah. Itu sudah harga mati, siapapun mengajak koalisi dengan Demokrat, syarat itu yang utama.

Bermimpi menjadi Capres maupun Cawapres, itu memang hak semua anak bangsa. Tapi bayang-bayang hendaklah sepanjang badan; sudah punya prestasi apa buat negara kok memberanikan Nyapres maupu Nyawapres? Jika prestasi buat negara masih nol, sama saja nafsu besar tenaga kurang. Ibarat jago, belum ada tajinya sudah dipaksakan bertarung. Sekali pendel (pukul) KO-lah dia.

Banyak orang Indonesia kadang-kadang naif ketika mencari pemimpin. Yang dilihat siapa bapaknya, orangnya ganteng apa tidak? Soal prestasi nomer dua. Tapi kan tak semua orang punya pemikiran seperti itu. Makanya politisi PDIP Eva Kusuma Sundari pernah menilai, AHY perlu berproses dulu. Silakan Nyapres, tapi bukan sekarang waktunya.

Bila PD dan SBY-nya terus pasang harga seperti itu, jangan-jangan malah tak laku itu barang. Diajak kolisi oleh Jokowi ataupun Prabowo tak perlu minta harus jadi Cawapresnya. Siapapun yang menang, dikasih posisi Menpora misalnya, sudahlah bagus. Itu itung-itung untuk berlatih jadi pemimpin.

Tapi agaknya Ketum Demokrat itu punya pertimbangan lain. Hanya saat ini yang tepat. Jika nunggu tahun 2024, dikuatirkan popularitas SBY sudah semakin meredup, sehingga sudah tak punya nilai tambah lagi untuk pencapresan AHY. – gunarso ts