Tuesday, 20 November 2018

Ini Penyebab Ledakan Tabung Gas di Ruko Grand Wijaya Seperti Bom

Jumat, 13 Juli 2018 — 11:51 WIB
Rukp diKomplek Pertokoan Grand Wijaya Center Kelurahan Pulo, hancur, diduga akibat tabung gas.(Ist)

Rukp diKomplek Pertokoan Grand Wijaya Center Kelurahan Pulo, hancur, diduga akibat tabung gas.(Ist)

JAKARTA –  Warga Jakarta Selatan sempat digegerkan dengan terjadinya ledakan di sebuah ruko di Grand Wijaya Center, Kebayoran Baru Kamis (12/7/2018) dini hari.

Besarnya ledakan dengan kerusakan yang cukup parah membuat warga sempat mengira ledakan bersumber dati bom. Namun setelah pemeriksaan,  polisi memastikan ledakan bersumber dari sebuah tabung gas 12 Kg.

Lalu bagaimana tabung gas bisa membuat ledakan yang cukup besar?  Kepala Bidang Balistik Metalurgi Forensik Puslabfor Polri, Komisaris Besar Polisi Ulung Kanjaya mengatakan hal itu bisa terjadi karena dalam ruangan tidak ada ruang udara atau ventilasi.

Ulung menerangkan tabung gas yang bocor di ruangan tanpa ventilasi membuat gas akan mengendap. Jika terdapat pemicu semisal api, maka ledakan seperti bom bisa terjadi.

“Gas itu kalau sudah mengisi di satu ruangan, kalau terpicu dengan api itu meledaknya kayak bom, seperti bom. Jadi misalnya ruangan itu kan sekitar 4,5 x 8 meter, itu kalau terisi (gas) ya dahsyat seperti ini, bisa memecahkan sekitarnya. Ini kan ada pintu sampai terlempar,” katanya kepada wartawan, Jumat (13/7/2018).

Menurutnya ventilasi atau jalan udara sangat penting jika menghadapi kebocoran tabung gas. Karena itu dia dia menyarankan warga jika menghadapi situasi tersebut, segera membawa tabung gas ke ruangan terbuka agar tidak ada endapan gas.

“(Gas) dia tingginya sekitar 1 meteran. Jadi kalau desain rumah, ada dapurnya, dapur itu harus ada sirkulasi udara. Jadi ada ventilasinya. Kalau ada kebocoran gas, gas itu harus bisa dikeluarkan secepatnya, harus keluar udara bebas,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Ulung menambahkan hasil pemeriksaan Puslabfor terkait ledakan di ruko Grand Wijaya diperkirakan baru akan diketahui sekitar satu minggu.

” Sekitar di bawah satu minggu lah,” pungkas Ulung. (ikbal/tri)