Tuesday, 13 November 2018

MPLS Tanpa Plonco

Jumat, 13 Juli 2018 — 4:48 WIB

SISWA baru tingkat SMP maupun SMA pekan ini mulai menyiapkan diri mengikuti kegiatan belajar. Pekan depan, kegiatan diawali dengan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan sekolah (MPLS) sebagai pengganti MOS (Masa Orientasi Sekolah). Sejatinya kegiatan ini tujuannya sama saja, yaitu orientasi mengenal lingkungan sekolah.

Di Provinsi DKI Jakarta, Disdik DKI Jakarta menetapkan jadwal MPLS Senin 16 Juli sampai Rabu, 18 Juli 2018.

MOS beberapa tahun silam menjadi momok bagi siswa baru, karena identik dengan praktik perploncoan. Bahkan sampai jatuh korban jiwa, baik itu karena kelelahan atau jadi korban kekerasan senior di sekolah. Melalui Permendikbud Nomor 18/2016 Tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah, paradigma tentang pelaksanaan MOS diharapkan berubah.

Masa orientasi sejatinya penting bagi siswa baru guna mengenal lingkungan sekolah serta civitas akademi. Hanya saja, MOS kerap melanggar rambu-rambu. Siswa baru kerap ‘dibuly’, diberi beban tugas serta hukuman tidak rasional sehingga membuat peserta didik trauma.

Melalui pedoman yang dikeluarkan Kemendikbud tentang pelaksanaan MOS atau MPLS tahun 2018/2019, pihak sekolah wajib menjamin pelaksaan orientasi tidak merugikan siswa. Kegiatan tidak boleh menjurus pada perpeloncoan atau penyiksaan secara verbal, yang tidak mendidik.

Dalam poin-poin Permendikbud juga disebutkan, orangtua dilibatkan dalam proses kegiatan MPLS. Orangtua berhak memperoleh informasi kegiatan orientasi yang dilakukan pihak sekolah sebelum kegiatan berlangsung. Kegiatan ekstrakulikuler juga harus atas izin wali murid.

Poin dalam peraturan tersebut menekankan, bahwa pelibatan orangtua sejak awal dapat mencegah terjadinya kegiatan yang menyimpang. Belajar dari banyaknya penyimpangan pelaksanaan MOS pada tahun-tahun sebelumnya, pihak sekolah sebaiknya melibatkan wali murid secara aktif. Termasuk dalam menyusun kegiatan ekstrakulikuler.

Dalam dua tahun belakangan ini, pelaksaan orientasi di sekolah sudah mengalami kemajuan. Banyak sekolah yang mengisi MOS dengan kegiatan positif, edukatif, bahkan melibatkan langsung wali murid. Semisal, menggelar sungkeman murid kepada orangtua. Ada pula kegiatan uji kreatif antar-siswa baru. Rangkaian kegiatan ini jauh lebih bermanfaat ketimbang kegiatan ‘nyeleneh’ seperti menyuruh siswa mengitung beras, berbicara dengan hewan dan aktivitas aneh lainnya.

Jadikanlah masa orientasi siswa sebagai kegiatan yang membuat gembira dan meninggalkan kesan menyenangkan. Bukan sebaliknya, kegiatan yang menyeramkan. **