Wednesday, 18 July 2018

Susan Soebakti : Butuh ‘Orang Gila’ Kelola Tenis

Jumat, 13 Juli 2018 — 0:40 WIB
Susan Soerbakti. (prihandoko)

Susan Soerbakti. (prihandoko)

CINTA Susan Soebakti kepada olahraga tenis lapangan tak perlu diragukan lagi. Semasa remaja dirinya merupakan pemain tenis, seangkatan Justejo Tarik dan Lita Kaligis di era 1970-an.
Kini pun Susan juga mengabdi di tenis sebagai Wakil Sekjen Pengurus Pusat Persatuan Law Tenis Indonesia (PP PELTI).

“Tenis sudah menjadi darah daging dalam hidup saya. Saya selalu ingin berbuat untuk memajukan prestasi tenis Indonesia, walau mungkin yang bisa saya perbuat sekarang ini hanya sebagian kecil dari tenis sendiri yang teramat besar dan sangat mendunia,” kata Susan kepada Pos Kota beberapa waktu lalu.

Menurut Susan, belakangan banyak petenis muda potensial Indonesia yang bila dibimbing dan diberikan arah tak mustahil akan dapat menjadi bintang dunia, seperti pendahulunya Yayuk Basuki, Wyne Pramudya dan Angelique Widjaja.

“Bibit-bibit muda tenis kita tak kalah jika dibanding negara lain, hanya karena kurang banyaknya turnamen berskala internasional menjadikan mereka tak bisa muncul menjadi petenis top. Di sini rasanya saya tergerak untuk berbuat sesuatu, menyelenggarakan turnamen internasional agar dapat memberikan batu loncatan kepada bibit potensial Indonesia untuk ke jenjang lebih tinggi,” terang Susan.

MENGGAIRAHKAN

Dirinya lewat PP PELTI ingin berbuat sesuatu demi menggairahkan kembali tenis Indonesia, setelah sempat ” mati suri” karena jarang dan minimnya turnamen berskala internasional di Tanah Air.

“Tenis memang olahraga individual, tapi bibit muda sangat butuh banyak turnamen guna mematangkan skill dan metal bertanding sebagai juara. Nah, di sini peran PELTI dan orang- orang yang ‘ gila ‘ tenis sangat dibutuhkan sebelum bibit muda tadi bisa mandiri setelah menjadi petenis profesional,” tutur Susan yang telah berkecimpung sebagai pembina tenis nasional 12 tahun lebih lamanya.

Susan mengawali sebagai pembina tenis nasional ketika terpilih jadi ketua PELTI Balikpapan. Dari situ kecintaan wanita satu ini kian menebal untuk membina tenis nasional, sampai akhirnya dipercaya menjabat Wakil Sekjen PP PELTI di bawah kepemimpinan Rildo Anwar.

Di mata Susan jika bibit-bibit muda potensial Indonesia mendapat banyak kesempatan bertanding dengan petenis asing, bukan mustahil akan lahir kembali petenis yang cukup dapat diandalkan Indonesia di masa mendatang.

Diakui Susan, memang bukan hal mudah untuk.kembali dapat melahirkan bintang sekelas Yayuk Basuki di masa sekarang ini.” Sekarang ini banyak kemajuan jaman, seperti munculnya mall, game online dan kemajuan jaman lainnya yang dapat mengganggu fokus petenis muda dalam berlatih. Beda di jaman saya dulu, justru bermain dan berlatih tenis itu menjadi hiburan kita.

Makanya jaman saya dulu muncul banyak petenis bagus, seperti Justedjo,” terang Susan.
Susan berpesan kepada bintang muda tenis Indonesia untuk lebih fokus dan berlatih keras serta disiplin, apabila ingin lahir jadi bintang tenis yang dapat jadi andalan Indonesia. Sedang dirinya sebagai pembina akan mengupayakan lebih banyak turnamen berskala internasional guna memberikan ‘ jam terbang’ kepada bibit-bibit muda untuk terlahir menjadi bintang andalan Indonesia. (prihandoko/bu)