Sunday, 23 September 2018

Koalisi Dosen-Ahli Geologi Tertangkap Basah di Hotel

Minggu, 15 Juli 2018 — 6:20 WIB
lebihbaik

KETIKA ahli geologi membangun koalisi kenikmatan bersama dosen PTS, hasilnya bikin gempar kota Padang (Sumbar). Fahri Zon – Ny. Halida ketangkep basah Satpol PP di hotel. Tapi ketika keluarganya hendak dipanggil, Bu Dosen mau bunuh diri, ketimbang aibnya bikin malu ninik mamak (keluarga besar).

Padang kota sangat agamis, tapi ternyata setan dan iblis tak segan-segan menjadikannya sebagai daerah operasional. Sejumlah warganya disesatkan, sehingga mau berbuat melanggar hukum agama dan negara, termasuk hukum adat yang sangat dijunjung masyarakat Minang. Hasilnya “rancak bana” (bagus sekali), tentu saja bagus dari kacamata setan, sosok lelaki dan perempuan yang sangat terhormat kedudukannya di masyarakat jadi terhina bak lapik buruk (tikar rombeng).

Fahri Zon, 57, yang menjadi ahli geologi di kotanya, kok bisa-bisanya mengorbankan keluarganya demi bangunan koalisi kenikmatan bersama Ny. Halida, 40, yang menjadi dosen PTS di Bukittinggi. Ahli geologi kan orang cerdas, demikian juga Bu Dosen, tapi gara-gara bujukan setan-iblis mereka jadi terlena. Mereka menuntaskan nafsu birahi di sebuah hotel Padang utara. Di tempat inilah Ny. Halida “dieksplorasi” bagaikan penemuan tambang baru. Namanya juga ahli geologi.

Istri Fahri Zon juga bukan orang sembarangan, dia pernah menjadi Ketua DPRD Kabupaten Solok beberapa waktu lalu. Tapi karena ahli geologi itu harus selalu berkarya dan berusaha menemukan tambang-tambang baru, tambang yang ditemukan pertama kali agaknya sudah tidak menarik lagi. Dia membutuhkan tambang baru yang siap dibor kapan saja, tapi tanpa resiko macam Lumpur Lapindo di Sidoarjo.

Sekali waktu Allah Swt mempertemukan ahli geologi – dosen itu. Awalnya murni urusan pekerjaan, tapi lama-lama bisa dikerjain setan. Maklumlah, Ny. Halida itu masih cantik di usia kepala empat. Akhirnya, bagi ahli geologi itu Bu Doesen lama-lama berhasil didodos (dimakan, Jawa) sampai bosen! Lupa bahwa keduanya tinggal di Padang, yang penting memanjakan syahwatnya yang nan gadang (besar sekali).

Beberapa hari lalu Fahri Zon sedang membangun koalisi kenikmatan bersama Halida di hotel di bilangan Padang utara. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa Pemprov Sumbar secara rutin menggelar Operasi Pekat (penyakit masyarakat). Nah, keduanya tertangkap basah. Memang bukan dalam posisi sedang “eksplorasi” (ngebor), tapi bukan suami istri berada dalam satu ranjang dalam kamar hotel, mau ngapain saja jika tak berbuat yang tidak-tidak.

Fahri Zon – Halida kontan blingsatan bak kena kacang miang (baca: gatal sekali). Mereka malu karena berarti telah gagal jadi rang sumando (menantu) dalam keluarga. Keluarga Fahri Zon berhasil didatangkan. Tapi Halida, bersikukuh melarang jangan sampai mereka tahu. “Ambo (aku) lebih baik mati ketimbang aib ini diketahui suami dan anak-anak ambo…” ancamnya.

Tak bisa diselesaikan di lobi hotel, Halida – Fahri Zon dibawa ke kantor Satpol PP di kompleks Pemprov Sumbar. Akan halnya Ny. Fahri Zon, hanya bisa menangis begitu tahu suaminya tertangkap dalam operasi susila. Kenapa suaminya tega mengkhianati dirinya. Seingatnya, ibarat makanan “lamang tapai” selalu disediakan kapan saja, tak hanya di hari Lebaran, kok ini suami tega berbuat macam-macam yang bikin malu ninik mamak.

Laki-laki kan pembosan, sekali-kali pengin juga ketoprak betawi. (MC/Gunarso TS)