Saturday, 15 December 2018

SDM UNTUK KOPERASI

Kamis, 19 Juli 2018 — 4:50 WIB

Oleh H. Harmoko
PATUT diapresiasi komitmen pemerintah untuk terus memajukan koperasi. Tidak mudah di era globalisasi, ekonomi digital, serbuan modal asing, berjuang mewujudkan cita-cita Bapak Pendiri Bangsa kita, khususnya Bung Hatta untuk menjadikan koperasi sebagai soko guru ekonomi kita.

Kita sama-sama meyakini, pertumbuhan ekonomi yang adil dan merata sangat diperlukan untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera.

Sistem ekonomi koperasi memiliki peran strategis, karena pertumbuhan ekonomi bisa saja tidak dinikmati mayoritas masyarakat, melainkan dinikmati segelintir atau sekelompok orang saja.

Penting untuk menggelorakan koperasi, karena jumlah koperasi terus menurun. Bila tahun 2014 ada sebanyak 212.570 unit dan kini berkurang menjadi 152.714 unit. Sebanyak 40.013 unit koperasi dibubarkan karena tidak aktif lagi.

Bung Hatta membuat gerakan ekonomi kerakyatan lewat koperasi atas keinginan memakmurkan rakyat berasas kekeluargaan dalam bentuk “usaha bersama”. Memajukan kesejahteraan anggota dan masyarakat, serta membangun ekonomi nasional adalah tujuan dibangunnya sebuah koperasi.

Koperasi merupakan bentuk konkret sistem ekonomi gotong-royong. Dalam koperasi dituntut pemerataan kerja dan pembagian hasil, sehingga tak ada lagi ketimpangan.

Setiap orang bisa bekerja secara wajar serta mampu memenuhi kebutuhannya. Berbeda dengan sistem kapitalisme, ekonomi gotong-royong adalah sistem yang tidak menumpuk kekayaan kepada perseorangan. Tetapi, yang lebih penting, pembagian kekayaan secara merata.

Dengan adanya koperasi, kebutuhan anggotanya dapat diperoleh dengan mudah sehingga membuat kesejahteraan anggota meningkat dan secara langsung dapat memajukan kesejahteraan masyarakat dan perekonomian Indonesia.

Namun, Bung Hatta menyadari, koperasi merupakan langkah jangka panjang ekonomi. Hasilnya tidak bisa serta merta dirasakan.

Atas kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia, Hatta diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada tahun 1953 saat kongres II di Bandung.

Sudah 70 tahun berlalu, dalam pemerintahan Presiden Jokowi, Kementerian Koperasi dan UKM menjalankan Reformasi Total Koperasi melalui tiga langkah strategis, yakni reorientasi, rehabilitasi, dan pengembangan. Tujuannya adalah mengembangkan koperasi secara berkualitas sebagai organisasi yang memberikan kesejahteraan kepada anggotanya dan kemanfaatan kepada masyarakat.

Tantangan utama yang kita hadapi dalam memajukan ekonomi koperasi adalah sumber daya pengelolanya. Karena, bukan rahasia lagi, pengelola koperasi sebagian besar bukan tenaga profesional, melainkan dipilih berdasarkan kesepakatan anggota.

Karena itu, kini maupun ke depan, perlu ada kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni untuk memajukan koperasi, yang selama ini berkualifikasi rendah dan sedang. Kesiapan SDM sangat penting dan tak mudah, tapi kita yakin SDM kita mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Di samping meningkatkan SDM dalam mengelola ekonomi koperasi, juga anggota harus dididik sehingga lebih dapat memahami bagaimana semangat berkoperasi. Kebersamaan menjadikan anggota menyadari nilai tambah dalam koperasi. Tak kurang pentingnya, mendidik perilaku anggotanya agar berlaku bijak dan cerdas menggunakan pendapatannya, tidak berperilaku konsumtif. Juga jujur dalam mengelola manajemen dan keuangan koperasi.

Unit-unit layanan usaha dalam koperasi harus melakukan adaptasi terhadap perkembangan zaman, terutama menghadapi ekonomi digital saat ini – sehingga tidak tertinggal dan tetap bisa bersaing.

Koperasi di era kini tidak saja dituntut mengembangkan beragam usaha bersama, tetapi lebih cermat menyesuaikan diri dengan perkembangan lingkungan, teknologi informasi dan digital yang dapat melayani anggotanya dengan cepat, akurat, tapi bersahabat. *