Sunday, 18 November 2018

Burberry Bakar Tas, Baju dan Parfum Senilai Ratusan Miliar Rupiah

Sabtu, 21 Juli 2018 — 6:06 WIB
Burberry berusaha membuat mereknya lebih eksklusif.

Burberry berusaha membuat mereknya lebih eksklusif.

INGGRIS- Burberry, label fesyen kelas atas Inggris, membakar pakaian, perhiasaan serta parfum yang tidak terjual, senilai £28,6 juta atau Rp539 miliar tahun lalu, demi melindungi mereknya.

Tindakan ini membuat nilai keseluruhan barang yang dihancurkan dalam lima tahun terakhir menjadi lebih dari £90 juta atau Rp1,6 triliun.

Perusahaan fesyen, termasuk Burberry, selalu menghancurkan produk yang tidak diinginkan untuk mencegah barang tersebut dicuri atau dijual murah.

Burberry menyatakan energi pembakaran produk itu disimpan agar tindakan tersebut ramah lingkungan.

“Burberry memiliki proses berhati-hati untuk mengurangi jumlah kelebihan simpanan barang yang diproduksi. Ketika pembuangan produk harus dilakukan, kami melakukannya secara bertanggung jawab dan terus mencari cara untuk mengurangi dan menilai ulang limbah kami,” kata juru bicara perusahan.

Perusahan FTSE 100 ini menyatakan tindakan tersebut “tidak biasa” karena mereka harus membakar banyak parfum setelah menandatangni kontrak baru dengan perusahaan AS, Coty.

Ketika Coty membuat persediaan baru, Burberry harus membuang produk baru, sebagian besar parfum, senilai £10 juta atau Rp188 miliar.

Dalam beberapa tahun terakhir, Burberry berusaha keras membuat mereknya kembali menjadi eksklusif, setelah melewati tahap dimana para pemalsu “menaruh nama Burberry di barang apapun”, kata Maria Malone, pengajar bisnis fesyen di Manchester Metropolitan University.

Merusak barang yang tidak diinginkan adalah bagian dari proses itu, katanya.

“Alasan mereka melakukan hal ini agar pasar tidak dibanjiri barang diskon,” kata Malone.

“Mereka tidak menginginkan produk Burberry jatuh ke tangan orang-orang yang menjual dengan potongan harga sehingga merusak merek.”

Tim Jackson, pimpinan British School of Fashion, Glasgow Caledonian University, London mengatakan perusahaan fesyen mewah seperti Burberry menghadapi “masalah”.

Mereka harus tumbuh tetapi dengan risiko “melemahkan jati diri dan menciptakan stok berlebih”, katanya.

“Mereka tidak akan bisa mengatasi masalah ini.”

Burberry bukanlah satu-satunya perusahaan yang harus mengatasi surplus barang mewah.

Richemont, pemilik merek Cartier dan Montblanc, harus membeli kembali jam senilai £430 juta atau Rp8,1 triliun dalam dua tahun terakhir.
Ke pasar atas

November lalu, Burberry mengumumkan perubahan yang bertujuan untuk “menyuntikkan energi” kepada produknya selama beberapa tahun.

Di antaranya adalah dengan membawa merek ini ke pasar atas, menutup toko yang lokasinya tidak strategis dan menciptakan “pusat kecanggihan” barang kulit mewah.

Perusahaan ini juga memotong biaya, yang telah membantu peningkatan keuntungan.

Pada tahun buku yang baru lalu, Burberry mencatat kenaikan keuntungan sebesar 5% menjadi £413 juta atau Rp7,7 triliun, dengan angka penjualan yang tidak terlalu berubah pada £2,7 miliar atau Rp50,9 triliun.(BBC)