Monday, 24 September 2018

MEMBUAT AMAN LEWAT ALAT MODERN

Senin, 23 Juli 2018 — 5:54 WIB

 

Oleh H.Harmoko

AKHIR-AKHIR ini ada sedikit keresahan masyarakat terhadap berbagai peristiwa kejahatan yang meningkat. Hampir setiap hari media massa (koran, televisi dan media lain) memberitakan terjadinya peristiwa kejahatan. Seorang dirjen dijambret, seorang staf kepresidenan dibawa lari tasnya, seorang ibu ditembak saat mempertahankan motornya dan banyak berita lainnya.

Penangkapan pelaku kejahatan jalanan (street crime) oleh aparat sebenarnya juga tak henti-hentinya sebagai pertanda adanya peristiwa kejahatan. Ada yang ditembak kakinya bahkan tak sedikit yang langsung ditembak hingga tewas di tempat. Kondisi ini mau tak mau membuat situasi kurang tenteram.

Masyarakat dibayang-bayangi situasi yang tidak nyaman di sepanjang jalan menuju tempat bekerja, sekolah, pasar dan lainnya. Ada rasa takut, karena siapa pun bisa saja menjadi korban. Informasi upaya aparat penegak hukum memerangi kejahatan belum diterima sebagai bentuk yang membuat ketentraman masyarakat.

Para ahli yang mempelajari pola-pola pelaku kejahatan menyebutkan bahwa kejahatan itu merupakan kondisi normal dalam masyarakat. Justru dalam masyarakat yang nihil kejahatan dianggap kurang normal.Tapi tentu saja bukan perbuatan jahat yang dianggap normal, melainkan situasinya.

Pada dasarnya setiap situasi dipengaruhi oleh keadaan umum masyarakat. Data kejahatan yang meningkat akhir-akhir ini tidak lepas dari situasi masyarakat secara umum. Keadaan kita saat ini memang menentukan demikian sehingga grafik kejahatan terasa menanjak.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi data angka kejahatan di kepolisian meningkat. Salah satu di antaranya adalah peristiwa besar yang akan digelar di negeri ini, Asian Games 2018.

Asian Games Agustus 2018 di Jakarta dan Palembang merupakan ajang olahraga multi event terbesar kedua setelah olimpiade. Lalu apa hubungannya dengan peristiwa kejahatan?
Indonesia sebagai tuan rumah kegiatan dengan peserta dan negara yang banyak, tentu harus menjadi tuan yang baik. Kenyamanan dan keamanan jadi modal dasar kepercayaan peserta. Tanpa jaminan itu, bisa jadi peserta tidak akan datang.

Tak mengherankan dengan adanya momentum itu upaya mewujudkan situasi terbaik dilakukan dengan segala daya. Berbagai razia digelar, terutama yang terlihat mata, seperti mengangkut ‘pak ogah’ dari pinggir jalan, penjudi pojok-pojok gang, anak-anak muda yang nongkrong tidak karuan, tukang parkir liar dan entah apalagi. Sesungguhnya aksi-aksi mereka itulah yang mendongkrak grafik angka kejahatan.

Kalau mau jujur, sebenarnya bukan tingkat kejahatan riil di masyarakat yang naik, tetapi aksi aparat yang semakin meningkat. Hal ini merupakan upaya mewujudkan keamanan masyarakat menjelang kegiatan besar tersebut. Tentu semua berharap, suatu saat nanti situasi demikian dilakukan secara rutin, sehinggga situasi keamanan akan terwujud.
Adanya aparat di setiap sudut akan menentramkan. Calon pelaku kejahatan pun akan memikirkan keselamatan dirinya sebelum beraksi.

Patung polisi di beberapa sudut ibukota yang kita lihat, ada kalanya menjadi terapi kesadaran. Orang jadi urung melanggar hukum atau peraturan. Apalagi seandainya itu benar-benar aparat, tidak hanya pelanggar aturan yang membatalkan niatnya melanggar, tetapi penjahat pun tidak akan berani beraksi.

Kurangnya jumlah aparat selalu menjadi alasan sehingga perlu dicari ‘jurus’ untuk mencari cara terbaik. Bukan sekadar patung tetapi harus yang lebih dari itu. Di negara tetangga seperti Malaysia, sangat jarang kita melihat polisi di jalanan, tetapi pelanggaran lalulintas sangat minim. Ternyata negara itu menerapkan sistem pengamanan yang canggih, bukan sekadar patung tetapi yang benar-benar bisa mewakili. Aparat negara serumpun itu memasang CCTV yang sangat banyak sebagai pengawas di jalanan.

Dengan CCTV, pelanggar di jalan (tol) akan langsung ditangkap saat hendak keluar dari gerbang. Begitu juga di jalanan, petugas berwenang tak lagi harus beradu otot untuk membuktikan.

Tentu saja ini tidak hanya bisa menjadi sarana antisipasi pelanggaran di jalan yang efektif, tetapi juga aksi kejahatan di mana saja.

Bukankah hal ini sudah sering jadi panduan petugas? Yaitu setiap kali ada peristiwa kejahatan, yang dicari pertama adalah CCTV. Karenanya, sudah waktunya pemerintah menuntaskan hal-hal yang bisa dilakukan secara paripurna. Bukan karena kurangnya aparat atau anggaran, rakyat dibiarkan setiap saat ketakutan. Menciptakan pengamanan yang paripurna dengan cara terbaik akan lebih realistis.

Bukankah wasit piala dunia yang baru saja berlalu pun, memanfaatkan jasa CCTV yang disebut VAR untuk mengawasi 22 pemain di lapangan. Ternyata itu menjadi kekuatan yang luar biasa, 22 pemain tak pernah protes, ribuan penonton di stadion tak pernah protes, manajer tak pernah protes dan dunia tak pernah mengutuk.*