Sunday, 18 November 2018

Suami Sirinya Tidak Jantan Kecuali Punya Kejantanan

Selasa, 24 Juli 2018 — 7:20 WIB
pelakor

SUNGGUH menyesal Siti Atnikah, 31, mau dikawin siri oleh Pranoto, 40. Ternyata dia hanya punya alat kejantanan, tapi tidak jantan. Ketika dilabrak istri pertamanya di hotel, bahkan dianiaya dan dituduh pelakor, suami siri itu malah kabur, tak mau melindungi. Siti Atnikah pun mengadu ke Polres Bondowoso (Jatim).

Nyali dan syahwat ternyata tak selalu berbanding lurus. Maksudnya adalah, ada orang yang syahwatnya gede, tapi nyalinya kecil. Ketika ada masalah akibat pemanjaan syahwat yang terlalu besar, dia kabur dari masalah alias tak mau ambil resiko. Misalnya ketika praktek selingkuhnya ketahuan istri,  saat WIL atau istri sirinya itu diintimidasi oleh istri pertama, lelaki itu tak mau ndhadhagi atau tanggungjawab.

Kira-kira seperti itulah kelakuan Pranoto, warga  Grujugan Bondowoso. Ketika mampu sedikit ngliwet kenthel (baca: rejeki meningkat) mulai pikirannya macem-macem. Bukan nyaleg atau ikut pilkada, tapi cari perempuan idaman lain (WIL) untuk mendongkrak gairah syahwatnya. Maklumlah, bini di rumah itu ibarat listrik PLN, tegangannya tinggal 110 volt bukan lagi 220 volt seperti sekarang ini.

Pemikiran itu muncul ketika ketemu Siti Atnikah, gadis dari Pakusari, Jember. Wajah dan bodinya memang sangat menjanjikan, sekel nan cemekel pokoke. Baru bertatap muka saja sudah serrrr…., apa lagi nyenggol. Beda dengan yang di rumah, sudah nggak ada setromnya sama sekali. Kalau accu bisa dibawa ke tukang accu, lha kalau istri mau dibawa ke mana, hayo?

Ketertarikannya pada Siti Atnikah mulai dikembangkan. Pranoto ingin mengajak wanita itu membangun koalisi kenikmatan, yang syaratnya bukan 112 kursi DPR, tapi cukup banyak uang. Melihat gelagatnya, sepertinya Siti Atnikah memberi angin. Dia pernah menjajagi untuk itu. Misalnya ketika Pranoto hendak ke Jakarta pakai pesawat, Siti Atnikah menyarankan pakai Citilink saja. Buruan Pranoto menjawab, “Enakan naik Siti Atnikah GA 345”. Yang ditembak pun merah mukanya.

Perkembangan ke depan makin bagus saja. Siti Atnikah tak keberatan jadi istri kedua Pranoto. Cuma untuk menikah resmi tidak berani, disarankan nikah siri saja, ternyata sang WIL bersedia. Ya sudah, keduanya pun nikah siri, dan dibelikan rumah di Jember. Jarak Bondowoso-Jember hanya 34 Km, sehingga dalam rangka “ngecas” istri sirinya, carger bernama Pranoto itu tak masalah mondar-mandir Bondowoso-Jember.

Seminggu lalu Siti Atnikah kambuh penyakit lamanya, vertigo. Kata dokter supaya istirahat, maksudnya banyak rekreasi. Maka Pranoto menyarankan nginep di hotel Bondowoso saja, biar dekat dan gampang mengawasi. Nggak tahunya, justru istirahat di kota suaminya itu malah bagaikan ula marani gebuk (baca: bunuh diri).

Sebab ada saksi mata yang melihat, Pranoto suka mengendap-endap masuk ke sebuah hotel di kota Bondowoso, menemui seorang wanita. Nah, istri pertama pun terbakar. Bersama adik kandungnya, Prabowo, 30, hotel tempat Siti Atnikah nginep disatroni. Begitu ketemu, langsung ributlah. Celakanya, Pranowo bukan melesai, tapi malah  kabur entah ke mana.

Siti Atnikah habis dibuat bulan-bulanan Ny. Pranoto. Rambutnya dijambak, muka dicakar, sementara Prabowo memegangi. Tak hanya itu, Siti Atnikah dimaki-maki, disebut pelacur sekaligus pelakor (perebut laki orang). “Aku rela masuk penjara asal bisa kasih pelajaran kamu,” kata Ny. Pranoto, sementara Siti Atnikah diam saja. Untung saja keributan itu segera dilerai Satpam hotel.

Keluarga Pranoto pergi, kondisi wajah Siti Atnikah sudah kadung simpang siur. Dengan muka babak belur dia mengadu ke Polres Bondowoso. Dia mengadukan para penganiaya itu, termasuk suami sirinya juga, yang ternyata bukan lelaki jantan, kecuali punya alat kejantanan.

Nama Pranoto mestinya paling cocok diganti jadi: Ramli. (JPNN/Gunarso TS)