Wednesday, 26 September 2018

Janda Kembang Kedai Kopi Bikin Para Suami Lupa Diri

Rabu, 25 Juli 2018 — 8:10 WIB
digondol janda

KOPINYA sih biasa saja, tapi yang jualan bodinya ck ck ck….! Para suami di Patemon Surabaya ini akhirnya berebut mendekati Ny. Wiwik, 28, yang baru sebulan menjanda. Celakanya, Gatot, 35, istri Indah, 30, juga ikutan. Dinasehati kok semakin lupa diri, ya sudah…. pecah kongsi alias bercerai saja!

Andaikata Kemenkumham mengizinkan ada partai bernama Partai Karya Peduli Janda, pasti banyak peminatnya dan langsung menyabet sejumlah kursi Senayan. Soalnya janda cantik masih jadi komoditas menarik bagi para lelaki mata keranjang. Ciri khasnya, mana kala ada janda cantik di kampung itu, langsung jadi sumber gosip, bahkan sebagian ada pula jadi kontestannya.

Ny. Wiwik yang tinggal di Patemon Surabaya, memang cukup cantik di kelasnya. Tapi waktu itu masih biasa-biasa saja, belum menjadi trending topik. Tapi sejak dia bercerai dengan suaminya dua bulan lalu, mulailah Ny. Wiwik selalu menjadi agenda pembicaraan para lelaki di sekitarnya, khususnya para kalangan suami. Mereka membiacarakan segala kemungkinan. Bukankah soal cinta itu sangat cair, segala kemungkinan bisa saja terjadi?

Ada wacana untuk mempersunting Ny. Wiwik? Jika memungkinkan, kenapa tidak? Jika istri mengijinkan, bisa saja poligami. Jika ditolak istri, ya terpaksa meniru program Mardani Alisera PKS, #Tahun 2019 ganti bini. Tapi itu baru kemungkinan terburuk. Kalau bisa ya cukup poligami saja. Bukankah poligami menjadikan para suami berbadan bersih, karena rajin mandi junub.

Tiba-tiba ada berita baik bagi kalangan lelaki kampung Patemon. Ny. Wiwik buka usaha warung kopi. Wah, ini kan peluang emas untuk lobi-lobi politik sebelum menuju Pileg 2019. Dan faktanya, sejak Wiwik buka warung kopi, langsung pelanggannya banyak, terutama kaum lelaki. Mereka sambil nyokot pisang goreng, tapi batinnya bilang. “Kapan bisa nyokot bibir menggemaskan si Wiwik.”

Rasa kopinya sih biasa saja, tapi bodi Ny. Wiwik memang ngangeni, sekel nan cemekel. Bila sudah ngopi sambil ngobrol bersama pemilik warung, jarum jam terasa cepat sekali, tahu-tahu sudah pukul 22.00. Padahal selama berjam-jam di situ, baru bisa nyruput kopinya doang, bukan pemilik warung.

Para ibu-ibu mulai gelisah, jangan-jangan suaminya terpikat dengan sijanda cantik itu. Maka lewat WA mereka bertukar pikiran, bagaimana mengantisipasi agar suami mereka tidak menyeberang, jadi pemuja Ny. Wiwik dan lama-lama diajak membangun koalisi kenikmatan.

Ny. Indah termasuk wanita yang mulai membatasi gerak langkah suami, jangan sampai suka ngopi di warung Ny. Wiwik. Kala itu Gatot dinasihati begitu cukup mengiyakan saja, karena memang tak ada perhatian ke sana. Tapi gara-gara istri sampai mengingatkan, dia justru jadi penasaran. Kemudian Gatot ingin mencoba seperti apa rasanya kopi tubruk ala Ny. Wiwik.  “Woo,  enak banget Mas! Apalagi bila nubruk langsung Wiwik-nya” kata tetangga yang pernah ngopi ke situ.

Gatot pun menjajal kopi tubruk Wiwik, biasa saja. Tapi pemiliknya, woo….bikin betah duduk berlama-lama. Sejak itu hampir tiap malam suami Ny. Indah ini selalu ngopi di sana. Lama-lama kabar itu sampai ke telinga Ny. Indah. Begitu dicek, eh betul, suami semalaman nggedabrus bersama Ny. Wiwik. Langsung Gatot “ditenteng” dipaksa pulang. Ironisnya ketika dinasihati, jawab Gatot adalah, “Lho, nek kana gelem aku ya gelem kok.”

Wah, ini jawaban yang sekaligus ancaman serius. Ketimbang makan hati belakangan, Ny. Indah langsung memutuskan untuk bercerai saja. Esok paginya dia langsung mendaftarkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Surabaya.

Kasihan Gatot, kehilangan istri padahal belum berhasil nubruk pemilik kedai kopi. (JPNN/Gunarso TS)