Monday, 19 November 2018

Pelit Kepada Anak Sendiri Ternyata Bapak Punya WIL

Jumat, 27 Juli 2018 — 5:59 WIB
gerebek

ANDAIKAN Giyoto, 45, tidak pelit pada anak sendiri, mungkin skandalnya bersama WIL, takkan terbongkar. Tapi begitulah kelakuan lelaki dari Gunung Kidul (DIY) ini. Si anak pun, Widyo, 18, karena penasaran mencoba investigasi. Hasilnya, Giyoto digerebek anak dan istri di rumah kos-kosan janda bahenol.

Cinta itu membuat raktisinya jadi rela berkorban. Apa saja yang diminta si dia pasti dipenuhi. Sebab dengan mengeluarkan banyak atau sedikit benggol, pada akhirnya bisa terjamin dia punya bonggol. Padahal jika istri di rumah tahu, pasti jadi dongkol. Ujung-ujungnya kepala bisa benjol karena digetok engkol.

Giyoto yang tinggal di Playen Gunung Kidul, termasuk lelaki yang tak pandai bersyukur di muka bumi. Baru bisa sedikit ngliwet kenthel (rejeki meningkat), pikirannya sudah macem-macem. Uang berlebih itu bukan diivestasikan untuk beli tanah atau sawah, tapi malah untuk belanja “sawah” sepetak yang tak seberapa luas alias royal wedokan (main perempuan).

Sudah setahun ini dia punya cem-ceman, namanya Astuti, 30, janda muda dari Jeruksari, Wonosari. Bila dibanding dengan istri di rumah, wooo…..ya jelas jauh! Istri sudah mulai menua dan kisut, sedangkan Astuti ini masih kenceng, sekel nan cemekel. Pendek kata, lelaki normal asal melihat penampilan Astuti pasti langsung membayangkan yang mboten-mboten.

Kali pertama ketemu Astuti, Giyoto juga begitu, langsung membayangkan bisa begituan dengannya. Lelaki lain juga seperti itu, cuma bedanya mereka langsung pasrah pada pepesthen (takdir) Tuhan. Karena sudah digariskan punya bini jelek, ya sudah apa yang ada diuwet-uwet (dipelihara) semampunya. Toh di manapun perempuan itu seperti kue Kong Guan. Bentuk boleh macam-macam, tapi rasanya sama saja!

Giyoto emang beda! Didukung oleh kemampuan ekonominya, dia mulai berusaha mendekati Astuti, apa lagi setelah tahu wanita itu dalam status janda. Pikir Giyoto kemudian, dia pasti mudah diajak berkoalisi. Apa lagi ini hanya koalisi kenikmatan, sehingga tak perlu berebut siapa Capresnya, siapa pula Cawapresnya. Yang penting setelah sama-sama cocok, pasti bisa “dipres” di ranjang.

Jaman sekarang memang makin banyak wanita berprinsip: witing tresna merga atusan lima (baca: matrialistis). Termasuk di dalamnya ya si Astuti itu sendiri. Sering diberi uang oleh Giyoto, maka kemudian ketika diajak tidur di hotel barang beberapa jam mau saja. Di sinilah Giyoto bisa menuntaskan gairah asmaranya yang meledak-ledak. Ibarat mobil langsung dipacu 180 Km/jam sampai gemrobyos (mandi keringat).

Setelah berhasil menaklukkan Astuti sampai bertekuk lutut dan berbuka paha, koalisi kenikmatan itu tak selalu dibangun di hotel. Sekarang cukup di rumah kos-kosan, sebab Giyoto merasa perlu ada pengetatan anggaran. Toh target utama sudah tercapai.

Celakanya, pengetatan anggaran itu berimbas sampai rumahtangganya sendiri. Kini Giyoto ketat pula memberikan uang belanja pada istri. Sedangkan anak minta duit untuk biaya sekolah, juga sering tertunda. Maklum, semua lebih banyak dialokasikan untuk pembangunan “infrastruktur” di tubuh Astuti, WIL-nya selama ini.

Penasaran akan sikap bapak belakangan, Widyo si anak sulung mencoba berinvestigasi. Hasilnya, dia pernah melihat bapaknya boncengan motor dengan wanita cantik menuju ke rumah kos-kosan di Jeruksari. Kelihatan mereka mesra sekali, bagaikan suami istri. Bayangkan, jalan tidak licin si wanita tetap saja digandeng seperti sayang jika sampai kepleset.

Tapi sebagai anak yang baik, Widyo tak mau nyinyir menyerang ayah sendiri seperti politisi oposan. Dia cukup mengajak ibunya, agar menyaksikan sendiri bagaimana kelakuan ayahnya. Dan memang betul, begitu dipergoki anak dan istrinya, Giyoto tak berkutik ketika dibawa ke Polres Gunung Kidul dengan pasal perzinaan.

Dibikin malu keluarga, karena terlalu memanjakan kemaluan. (GI/Gunarso TS)