Sunday, 18 November 2018

Satpam Sekolah Diudak-udak Seusai Kencani Peserta Didik

Minggu, 29 Juli 2018 — 10:02 WIB
masihekceil

CAPEK kan baru baca judulnya saja? Ada istilah murid, diganti peserta didik. Tapi itu maunya pakar Kemendikbud. Dan inilah kelakuan satpam SMP di Surabaya. Dia diudak-udak orang, gara-gara meniduri peserta didik SMP tempat dia jadi Satpam. Tentu saja wali peserta didik langsung lapor polisi.

Sebagai wali peserta didik jaman now, harus semakin tinggi kewaspadaan nasionalnya. Karena pengaruh internet, peserta didik sekarang cepat masak muda. Ibarat buat, mateng karbitan. Kalau cawapres karbitan masih mending, banyak dielu-elukan kaum oposisi. Jika peserta didik mateng karbitan, resikonya bisa meteng (hamil) betulan meski belum punya suami.

Santi, 17, peserta didik SMP Tanjung Perak, memang sudah nampak kelihatan cantik meski baru duduk di kelas IX. Banyak temannya yang mencoba mendekati. Celakanya, Satpam sekolah tersebut, Joko, 25, diam-diam juga ikut-ikutan naksir peserta didik kembang sekolah itu. Begitu banyak yang mau mengajak Santi berkoalisi.

Menang lebih tua, tentu saja Joko menang pengalaman bagaimana mendekati cewek idaman. Yang lain penaksir Santi, kebanyakan kan kencing saja belum lempeng, wong masih setingkat ABG. Kalau dirinya, woooo…..jelas lempeng banget kayak diwaterpas! Ibarat Capres, Joko sudah memiliki 112 kursi DPR, sedangkan lainnya, baru 40-an kursi, sehingga harus biyayakan (kalangkabut) ke mana-mana cari dukungan.

Tanpa malu-malu Joko berani apel ke rumah Santi, tentu saja waktunya dicari pas orangtua atau wali peserta didik Santi tak di rumah. Kalau ada, mana berani dia nongol. Takut ditanya, kerjanya di mana? Berani ngaku “jadi satpam Pak”, pasti langsung tereleminasi.

Meski pekerjaan tak menjanjikan, panampilan Joko memang santun, dan seiman pula. Maka dia dengan mudah mendekati Santi, bahkan gadis ABG itu mau juga diajak jalan-jalan. Nah, di sela jalan-jalan santai tersebut, Joko selalu berkampanye agar koalisi ini dilalanjutkan secara permanen. Maksudnya, ada koalisi mesti ada pula eksekusi.

Awalnya Santi menolak ajakan “eksekusi” itu. Tapi lagi-lagi Joko memang pemuda santun, ahli menata kata. Prinsipnya, bahagia gadis idolanya, maju pula perutnya! Lho, kok yang maju perutnya? Ya iyalah, koalisi dilanjutkan dengan eksekusi, ujung-ujungnya pasti hamil juga, kan?

Santi tahu resiko itu, tapi Joko sudah menggaransi, siap menikahi. Ya sudah, asal main ke rumah Santi di Tanjung Perak, begitu situasinya sangat kondusif, mereka pun eksekusi bersama. Tapi sial, entah pada eksekusi yang ke berapa, saat lagi ketanggungan kakak Santi pulang dan memergoki adegan mesum itu.

Tentu saja kakak Santi marah. Joko yang hanya mengenakan kancut hendak ditangkap, tapi kabur. Persis tarsan diudak-udak, tapi tak tertangkap juga. Mendengar kabar anaknya berbuat mesum dengan Satpam sekolahnya, bapak tentu saja terkejut dan malu sekali. “Mana jaring hitem, mana? Buat penutup muka, malu saya…..” kata bapak Santi sambil banting kopiah.

Keluarga Santi tak jadi menutup muka dengan jaring, wong semeternya Rp 800.000,- Jalan satu-satunya lapor polisi dan Satpam Joko pun berhasil ditangkap. Dalam pemeriksaan dia mengakui, menggauli Santi baru 3 kali saja. “Tapi saya siap menikahi kok….” Kata Joko pede sekali.

Gadis mateng karbitan dinikahi, ya masih asem dong! (JPNN/Gunarso TS)