Saturday, 17 November 2018

Gara-Gara Jumbo Itu Barang Nikah Seminggu Minta Cerai

Senin, 30 Juli 2018 — 6:30 WIB
ukuran super

RUPANYA Reisa, 26, tak bakat jadi artis. Sementara artis-artis kita cenderung suka menikah dengan lelaki Barat, Reisa warga Surabaya justru minta cerai setelah seminggu menikah. Katanya sambil malu-malu, hardware suaminya terlalu jumbo itu barang! “Biar dia cari yang seimbang,” kata Raisa dalam sidang.

Boleh percaya boleh tidak, artis kita cenderung suka menikah dengan lelaki Barat. Bahkan ada juga, suami tak jelas kerjanya, tapi yang penting kan orang Barat. Jadi apa motifnya? Cari kebahagiaan rumahtangga atau sekedar memperbaiki keturunan? Jangan-jangan itu memang investasi jangka panjang. Sebab kalangan produser film Indonesia memang paling suka dengan artis indo, tak peduli itu suka indomie atau indomilk.

Reisa warga Tambaksari Surabaya bukan artis bukan selebritis, tapi dia justru dapat suami yang sebetulnya dambaan kalangan artis. Bagaimana tidak, di malam pertama Reisi justru kiprak (ketakutan), karena ternyata ukuran burung suami terlalu jumbo. Karenanya, dengan sangat dia minta “serangan umum” non 1 Maret 1949 itu minta segera dihentikan, meski tak ada urusannya dengan PBB.

Terus terang, Reisa mau menikah dengan Diponenggolo, 35, bukan pilihan sendiri. Itu semua bisa terjadi berkat lobi-lobi politik kedua orangtua masing-masing. Dengan kata lain, sekedar dijodohkan. Keluarga Dipo yang merasa panik anak lelakinya usia sudah 7 pelita, berusaha mencarikan jodoh. Pilihan kemudian jatih pada si Reisa.

Di mata keluarga Dipo, Reisa yang masih muda dan cantik, jelas memiliki elektabilitas tinggi. Pasti banyaklah yang mengajak berkoalisi. Kebetulan mereka kenal dengan orangtuanya, maka segera lobi-lobi dibangun. Kebetulan Dipo lelaki yang sudah mapan, ditambah santun dan seiman, pasti 58 % keluarga Reisa setuju.

Awalnya Reisa keberatan dengan cara-cara demikian. Tapi karena dipojokkan dengan kata “ketimbang nikah dengan orang yang gak jelas”, akhirnya Reisa setuju juga dikawinkan dengan Diponenggolo. Kata ayahnya kala itu, “Cowok yang belum punya pekerjaan, kan seperti Capres-Cawapres yang nggak punya partai.”

Begitu kesepakatan sudah deal, sebulan kemudian kedunya menikah. Keluarga memang takut bila terjadi setan lewat, sehingga koalisi yang baru dibangun bisa berantakan karenanya. Karena jedanya terlalu mepet, walhasil Dipo – Reisa belum saling mengenal secara mendalam, apa lagi yang dalam-dalam.

Akhirnya kekecewaan terjadi pasca resepsi pernikahan. Malam harinya ketika Diponenggolo hendak mengadakan “serangan umum”, terjadi kekacauan yang sungguh di luar dugaan. Belanda-nya sih  siap saja diserbu dengan peluru duabelas koma tujuh. Tapi begitu Dipo hendak unjuk kekuatan, Reisa terkaget-kaget melihat itu barang. Ukuran burung suami ora umum, sehingga dia langsung pindah kamar.

Sejak itu Reisa tak mau lagi seranjang dengan suami. Bahkan seminggu kemudian menggugat cerai ke Pengadilan Agama Surabaya, meski suaminya tidak setuju. Ketika ditanya majelis hakim alasannya, Reisa menyamarkan dengan istilah “tak ada kecocokan”. Setelah didesak-desak, barulah Reisa mengaku dengan jujur.

Coba Mbak pakai resep petinju mengurangi berat badan. (JPNN/Gunarso TS)