Thursday, 15 November 2018

Kakek Penjual Kapuk Kasur : Seminggu Belum Tentu Ada yang Beli

Selasa, 31 Juli 2018 — 9:17 WIB
Kakek Sunarya, penjual kasur keliling. (chotim)

Kakek Sunarya, penjual kasur keliling. (chotim)

SEMANGAT kakek Sunarya, 66, memang luar biasa. Modal tekad kuat tak mau berhenti, meski usianya tak lagi muda. “Setiap hari keliling bisa puluhan kilometer dengan membawa kasur dagangan,” katanya saat ditemui baru-baru ini.

Niat kakek asal Subang, Jawa Barat ini memang patut dihargai. Meski usia sudah senja, bekerja masih tetap kewajiban. Meski juga, anak-anak sudah bekerja dan mandiri. Tidak ada kata berdiam, selalu bekerja.

Menjual kasur kapuk sudah dijalani 23 tahun. Saat itu, kondisi Bekasi, masih sangat sepi. Berjualan kasur masih sering laku. Paling tidak, ada saja yang berharap servis kasur.

“Tapi sekarang susah ada yang mau. Sering tidak setiap hari berkeliling jauh, tetapi tidak ada laku,” katanya.

Menggunakan sepeda goes, dengan membawa bahan kapuk di kanan kiri, serta beberapa bantal guling yang ditawarkan. Bahan kasur ini didapat dari seorang bos di kawasan Pekayon.

“Kalah bersaing dengan busa atau spring bed,” katanya tentang usahanya.

Dengan menggunakan sepeda onthel pula, Pak Sunarya berkeliling komplek. Menawarkan jasa dan menjual kasur kapuk. Dengan bahasa promosi, Pak Sunarya menawarkan banyak kelebihan terkait kasur kapuk dibanding kasus sintetis atau juga springbed.

Bahkan, guling kasur dengan bahan kapuk, disebutkan juga lebih baik dibanding dengan kapas. “Kalau kapas itu tidak membal. Kalau sintetis sering kali panas. Kalau kapuk jelas adem dan sehat,” katanya.

Jasa menjual jasa dan kasur kapuk saat ini memang sudah jarang. Warga lebih memilih yang praktis dengan membeli busa atau springbed. Jika pun ada, pelanggan hanya melakukan servis dengan menggabungkan dua kasur yang sudah peot menjadi satu.

Kasur bikinannya dijual seharga Rp 1 jutaan. Untuk servis yang hanya butuh kain dan tambahan kapuk bisa lebih murah. Tapi, saat ini mulai jarang.

“Bahkan, seminggu keliling juga belum ada yang laku,” katanya.

Namun, Kakek Sunarya pantang menyerah. Dia sangat yakin, Allah sudah mengatur rizki seseorang. Seperti saat ini, dari pagi keliling kemudian bertemu warga yang baru nongrong dan ditawari minum teh. “Ini rizki sarapan saya,” katanya.

Baginya, Allah tak akan membiarkan hambanya telantar dalam mendapatkan rizki. Jika itu ada kesusahan, maka itu adalah ujian bagaimana ia bisa bersyukur. (chotim/fs)