Monday, 19 November 2018

Lima Bulan Menjadi Pengantin Belum Juga Serangan Umum

Selasa, 31 Juli 2018 — 6:43 WIB
tengkurep

BENAR-BENAR malang nasib Wiranu, 37, warga Surabaya ini. Katanya punya istri, tapi sejak jadi pengantin 5 bulan lalu, sampai kini belum pernah menggelar “serangan umum”. Khawatir peluru duabelas komah tujuh miliknya nganggur karatan, dia memilih bercerai dengan Tiwik, 25, bini hasil perjodohan itu.

Banyak lelaki yang terlalu idealis. Mencari istri harus sempurna, cantik luar dalam. Ya susahlah, wong gading saja tak mungkin ada yang mulus tanpa retakan. Jika terlalu pasang harga mati akan istri yang ideal, akhirnya malah tidak laku di pasaran, alias menjadi perjaka tua. Bila kondisi sudah begini, pihak orangtua biasanya yang mencarikan mitra koalisi.

Wiranu warga Benowo, Surabaya memang terlalu teliti memilih calon istri. Tak hanya harus cantik pisik, tapi juga batinnya. Ini jelas susah. Ada yang cantik, tapi begitu didekati, ternyata kelakuannya tidak baik, terlalu pengeretan. Ada yang baik budi bahasanya, tapi orangnya sama sekali tidak menarik. Cewek kok nggak punya pinggang, mirip seperti kendang. Demikianlah, sampai kapan pun takkan ketemu, sebab setiap manusia punya kelebihabn dan kekurangan masing-masing.

Karena terlalu memilih tersebut, Wiranu belum juga dapat istri. Maka pas sekali dengan namanya, Wiranu ternyata kepanjangan: suwi ora nganu (lama sekali tak begituan). Keluarga tentu saja jadi cemas, takut anak lelakinya ini tidak normal, atau tidak laku di pasaran seperti tokoh wayang Sarjokesuma.

Lalu ada yang berlagak jadi “king maker”, mempertemukan dengan Tiwik, gadis yang masih famili sendiri, asal Magetan. Secara pisik juga sangat menjanjikan, bodi seksi, kulit putih bersih. Buktinya yang naksir juga banyak, dari yang teman SD, SMP, SMA sampai mahasiswa. “Pokoknya Tiwik cocok jadi istrimu,” kata sang “king maker” yang juga kepercayaan orangtua Wiranu.

Wiranu pun cocok. Cuma Tiwik yang agak rewel, karena calon suami berusia njomplang, terlalu tua untuknya. Kalau jadi Cawapres sih nggak papa, makin tua justru makin laris buat rebutan. Tapi calon suami? Untuk masa sekarang sih belum ada masalah. Tapi 25 tahun mendatang, Wiranu pasti sudah masuk anginan, jalan mulai sempoyongan dan ke mana-mana bawa remason dan minyak angin Basuki.

Tapi berkat lobi-lobi politik, akhirnya Tiwik bersedia juga dipersunting Wiranu. Koalisi sudah terjadi dengan sempurna. Sebagaimana lazimnya rumahtangga baru, setelah sukses berkoalisi tentu saja ada “eksekusi”. Tapi sayang seribu sayang, setiap didekati Tiwik menolak dengan alasan belum siap dan capek, karena tangan keju-keju habis banyak salaman dengan tamu-tamu.

Wiranu mencoba memaklumi, malam itu gagal serangan umum non 1 Maret 1949. Tapi malam berikutnya ternyata kembali Tiwik beralasan belum siap. Malam ketiga juga begitu, dan seterusnya. Sampai 5 bulan Wiranu betul-betul “suwi ora nganu”. Capek punya istri yang cidera janji perkawinan, terpaksa Wiranu membawa persoalan ini ke Pengadilan Agama. Maunya Tiwik bisa dinasihati, jika bersikukuh ya sudahlah, ilang-ilangan endhog siji.

Cari istri baru, sebelum nikah harus teken pakta integritas. (JPNN/Gunarso TS)