Wednesday, 17 October 2018

LSI: Publik Semakin Takut dengan Isu Terorisme

Selasa, 31 Juli 2018 — 16:43 WIB
Ardian Sopa saat memaparkan hasil survei LSI tentang isu terorisme (rizal)

Ardian Sopa saat memaparkan hasil survei LSI tentang isu terorisme (rizal)

JAKARTA –  Lingkaran Survei Indonesia (LSI)  Denny JA merilis surveinya, ternyata publik semakin khawatir dengan aksi terorisme. Persentasenya sangat tinggi di angka 82.0%.

“Publik berharap munculnya civil society yang powerfull untuk tanggulangi isu terorisme. Hal ini karena aksi terorisme sudah berada di titik nadir, dengan melibatkan Ibu rumah tangga dan anak-anak,” kata Peneliti LSI  Ardian Sopa​ di Jl. Pemuda No. 70  Rawamangun, Selasa (31/7/2018).

Survei ini dilakukan pada 28 Juni – 5 Juli 2018 melalui face to face interview menggunakan kuesioner. Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan 1.200 responden dan margin of error sebesar +/- 2,9 %. Survei dilaksanakan di 34 propinsi di Indonesia.

“Publik yang semakin khawatir dengan aksi terorisme berada pada angka 82.0%. Publik yang menyatakan biasa saja 9.3%. Nyaris tidak ada yang menyatakan semakin tidak khawatir, karena angka nya hanya nol koma saja. Sisanya menyatakan tidak tahu tidak jawab,” katanya.

Ardian menegaskan, bahwa  publik yang semakin khawatir dengan aksi terorisme ini jika dilihat dari jenis kelamin, laki-laki maupun perempuan mayoritas semakin khawatir dengan aksi terorisme ini. Sebanyak 80.5% untuk laki-laki, dan 83.5% untuk perempuan. Perempuan sedikit lebih khawatir dibandingkan dengan laki-laki.

“Jika dilihat dari pemeluk suatu agama, disemua pemeluk agama mayoritas merasa semakin khawatir dengan aksi terorisme ini. Diatas 80% semua pemeluk agama, semakin khawatir dengan aksi terorisme,” katanya.

Untuk segmen pendidikan, memperlihatkan hal yang sama. Apapun jenjang pendidikannya, semakin khawatir dengan aksi terorisme ini. Yang lulus SD atau di bawahnya, Tamat SLTP/Sederajat, tamat SLTA/sederajat diatas 80% menyatakan semakin khawatir dengan aksi terorisme ini. Untuk jenjang pendidikan pernah kuliah atau di atasnya, yang semakin khawatir juga mayoritas berada pada angka 76.9%.

“Wong cilik maupun wong berada mayoritas menyatakan semakin khawatir dengan aksi terorisme ini. Untuk masyarakat dengan pendapatan kurang dari satu juta, 79.6% menyatakan khawatir. Penghasilan 1-2 juta, 81.5% menyatakan semakin khawatir. Penghasilan di atas 3 juta 85.4% menyatakan semakin khawatir,” beber Ardian.

Untuk pemilih partai, mayoritas pemilih partai menyatakan semakin khawatir dengan aksi terorisme ini.

“Partai pendukung pemerintah, maupun partai yang berada di luar pemerintah, pemilih-pemilihnya menyatakan semakin khawatir dengan aksi terorisme,” tegas Ardian. (rizal/tri)