Monday, 19 November 2018

Begini Cara Pengrajin Tahu Tempe di Semanan Mengolah Air Limbah

Kamis, 2 Agustus 2018 — 5:35 WIB
1. Ketua Kopti, Handoko di lokasi IPAL di RW 11 Kelurahan Semanan, Jakbar. (Rachmi)

1. Ketua Kopti, Handoko di lokasi IPAL di RW 11 Kelurahan Semanan, Jakbar. (Rachmi)

JAKARTA – Meminimalisir pencemaran lingkungan, pengrajin tahu dan tempe di Komplek Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) di RW 11 Kelurahan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat bahu membahu mengawal fasilitas instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di wilayah itu.

“IPAL di lokasi Kopti di RW 11 Semanan ini dibangun sejak 1996 oleh Pemprov DKI Jakarta dengan konsultan dari BPPT. Hingga kini kami tetap memeliharanya agar sungai di sekitarnya tidak tercemar,” kata Ketua Kopti, Handoko, Rabu (1/8/2018).

Handoko yang juga pengrajin tahu tempe ini menjelaskan IPAL di area RW 11 Semanan tidak menggunakan pompa, ataupun mengandalkan listrik tapi berbasis gravitasi aerob dan an-aerob.

Lokasi IPAL berada di atas lahan sekitar 1.000 meter persegi (M2) dengan memiliki beberapa bak penampungan. Limbah dari tempat pembuatan tahu tempe pengrajin sebagai tahap awal dialirkan ke bak tertutup (toren) untuk proses pengurangan bau dan penjernihan air limbah.

Selanjutnya mengalir ke bak terbuka yang tetap melalui proses penyaringan, untuk dialirkan ke saluran umum yang bermuara ke Kali Mookevart.

“Secara berkala, pengrajin membersihkan sampah berupa sedimentasi lumpur aktif yang dapat digunakan sebagai pakan protein yang bermanfaat bagi hewan seperti sapi dan kambing, terlebih saat ini jelang Lebaran haji,” ujar Handoko.

Ia menambahkan Kopti Semanan memiliki sekitar 1.417 perajin dengan mayoritas 1.200 perajin di kawasan Semanan. Usaha produksi perajin yang tergabung dalam Kopti ini setiap harinya membutuhkan sekitar 9.416 kg kedelai. Serta merekrut tenaga kerja hingga 3.217 orang.

limbah

Warga tengah membersihkan saluran air limbah yang masuk ke bak penampungan

“Keberadaan IPAL ini sangat penting bagi kelangsungan bisnis rumahan produksi tahu tempe, serta mengurangi pencemaran air tanah dan sungai di Jakarta yang berasal dari limbah tahu tempe. Pun warga sekitar tak mengeluh,” ungkap Handoko.

Meski begitu Handoko dan para perajin tahu tempe lainnya berharap pembinaan terpadu dari Pemprov DKI Jakarta terkait pemanfaatan dan pemeliharaan IPAL tersebut. (Rachmi/b)