Tuesday, 14 August 2018

Mendompleng Ganjil-Genap Diperluas

Kamis, 2 Agustus 2018 — 5:46 WIB

SETELAH sebulan uji coba, tepatnya 2 sampai dengan 31 Juli, sistem ganjil-genap yang diperluas mulai 1 Agustus 2018, resmi diterapkan. Bagi pengendara mobil yang melanggar langsung ditilang.

Rentang waktu ganjil-genap yang diperluas berbeda dengan biasanya. Bila biasanya ganjil-genap diterapkan dua sesi mulai pukul 06.00 sampai dengan 10.00 WIB dan pukul 16.00 sampai dengan 20.00 WIB, kini diberlakukan selama 15 jam yakni mulai pukul 06.00 sampai dengan 21.00 WIB.

Payung hukum menilang bagi pelanggar ganjil-genap yakni UU Nomor 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, tepatnya pasal 287 ayat 1. Mereka yang melanggar larangan bisa dipidana dengan kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp500.000.

Pemberlakuan ganjil-genap yang diperluas tidak lain demi menyukseskan Asian Games 2018. Diharapkan dengan adanya sistem ini, lalu lintas di Jakarta bisa lebih lancar dibandingkan hari biasanya.

Tujuan memberlakukan ganjil-genap yang diperluas melancarkan lalu lintas atlet maupun official peserta Asian Games dari tempat penginapan seperti wisma atlet ke venue-venue. Selain itu, para supoter, tamu negara, dan wisatawan juga bisa lebih leluasa alias tidak terjebak macet saat hendak menonton cabang olahraga yang dipertandingkan dan diperlombaan pada pesta olahraga bangsa-bangsa Asia tersebut.

Merujuk dan meyakini ganjil-genap yang diperluas bisa mengurangi kemacetan di Jakarta, Wakil Gubernur Sandiaga Uno merencanakan memberlakukan sistem ini bukan cuma dari 1 Agustus sampai dengan 2 September 2018. Namun, akan diperpanjang hingga acara Asian Para Games 2018 selesai pada 13 Oktober mendatang.

Bukan itu saja, pasca Asian Para Games, Sandiaga mengisyaratkan akan memberlakukan ganjil-genap yang diperluas untuk rentang waktu yang lebih panjang. Sasarannya untuk mengurai kemacetan yang selalu menyergap Jakarta.

Mengatasi kemacetan Jakarta termasuk dengan mendompleng ganjil-genap yang diperluas ala Asian Games sah-sah saja. Tetapi Pemprov DKI Jakarta dan para stakeholder dalam menerapkan kebijakan apapun harus mempertimbangkan dampak yang akan muncul.

Dalam menerapkan kebijakan tidak hanya disimpulkan dari satu faktor saja. Mungkin saja, ganjil-genap yang diperluas bisa mengurangi kemacetan, tetapi kalkulasi juga faktor lainnya, termasuk terkait aktivitas warga dan paling utama menyangkut perekonomiannya.

Jangan sampai memberlakukan ganjil-genap yang diperluas justru mengganggu aktivitas dan berujung pada kembang-kempisnya perekonomian warga.

Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga perlu mengantisipasi warga menjadi konsumtif dengan memiliki mobil minimal dua yakni bernomor polisi ganjil dan genap. Artinya, kajilah secara matang dan tidak serampangan saat menerapkan sebuah kebijakan. @*