Tuesday, 14 August 2018

Kantor Bertata Ruang Terbuka ‘Membungkam Hubungan Antarkaryawan

Jumat, 3 Agustus 2018 — 19:24 WIB
Penelitian menunjukkan bahwa tata ruang terbuka mengurangi kemampuan karyawan untuk fokus dan berkonsentrasi pada pekerjaan.

Penelitian menunjukkan bahwa tata ruang terbuka mengurangi kemampuan karyawan untuk fokus dan berkonsentrasi pada pekerjaan.

KEINGINAN untuk meningkatkan interaksi dan kolaborasi antara karyawan mendorong banyak perusahaan menerapkan tata ruang kantor terbuka.

Namun sebuah penelitian baru menemukan kecenderungan bahwa karyawan di kantor terbuka menghabiskan waktu kurang dari 73% untuk interaksi tatap muka, sementara penggunaan surat elektronik (surel) dan pesan singkat meningkat sebanyak lebih dari 67%.

Studi tersebut untuk pertama kalinya mengamati dampak kantor bertata ruang terbuka dengan mengukur komunikasi secara objektif. Peneliti menggunakan lencana elektronik dan mikrofon untuk memantau interaksi di antara karyawan dan melacak perubahan dalam penggunaan surel.

Temuan mereka mendukung penelitian sebelumnya yang menemukan, antara lain, bahwa lingkungan kerja dengan tata ruang terbuka mengurangi kemampuan karyawan untuk fokus dan berkonsentrasi pada pekerjaan mereka.
Kenapa harus terbuka?

Dalam teori, ada beberapa alasan bagus untuk mengadopsi tata ruang terbuka. Lingkungan sosial memainkan peran besar dalam kemampuan kita untuk menjadi proaktif dan termotivasi.

Dan kesuksesan di tempat kerja modern seringkali ditentukan oleh seberapa baik para individu berinteraksi dengan satu sama lain dan dengan organisasi.

Penelitian menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan karyawan untuk ‘kegiatan kolaboratif’ telah ‘meningkat sebanyak 50% atau lebih’ dalam dua dekade terakhir.

Tempat kerja yang memfasilitasi kontak yang lebih sering dan lebih berkualitas dengan orang lain telah terbukti meningkatkan komunikasi dan kolaborasi dalam tugas, kepuasan kerja, dan dukungan sosial.

Desain tempat kerja memengaruhi semua itu secara signifikan, dengan mendukung atau menjauhkan karyawan dari saling ketergantungan.

Membangun kebersamaan yang kuat merupakan faktor kunci keberhasilan layanan ruang kerja bersama, WeWork. Perasaan tersebut dicapai sebagian besarnya melalui kondisi fisik lingkungan kerja – ruangan bersih, lorong sempit, dapur umum, dan sejenisnya.
Pentingnya privasi dan konsentrasi

Namun di samping kolaborasi di tempat kerja meningkat, kebutuhan akan konsentrasi dan pekerjaan individu yang terfokus juga meningkat.

Dan penelitian menunjukkan bahwa ketika karyawan tidak dapat berkonsentrasi, mereka cenderung kurang berkomunikasi. Mereka bahkan bisa menjadi tidak peduli pada rekan-rekan mereka.

Pekerjaan berbasis-pengetahuan mengharuskan karyawan untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu dengan cara mengumpulkan, menganalisis, dan membuat keputusan menggunakan berbagai sumber informasi. Ketika salah satu proses kognitif ini terganggu, inefisiensi dan kesalahan meningkat.

Kemampuan untuk fokus pada tugas tanpa interupsi atau pengalih perhatian adalah fondasi penting untuk kerja yang efektif.

Penelitian menunjukkan, tata ruang yang buruk bisa menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan, yaitu meningkatkan beban kognitif pada pekerja melalui kepadatan atau rendahnya privasi. Dua akibat itu meningkatkan distraksi.

Alasan tata ruang terbuka tidak selalu mendorong kolaborasi

Di banyak kantor dengan tata ruang terbuka, dorongan untuk meningkatkan interaksi dan kolaborasi harus dibayar dengan kemampuan untuk fokus dan berkonsentrasi.

Ketika distraksi membuat karyawan sulit fokus, sumber daya emosi dan kognitif terkuras. Akibatnya, stres dan kesalahan meningkat, mengurangi performa secara keseluruhan.

Ketika karyawan tidak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaan mereka, keinginan untuk berinteraksi dan berkolaborasi dengan orang lain pun berkurang.

Selain itu, penelitian baru menunjukkan, meningkatnya kepadatan di tempat kerja dan rendahnya privasi menimbulkan perilaku defensif dan merusak hubungan kerja.

Aspek lain dari desain tempat kerja, misalnya pemandangan alam atau akses cahaya matahari, dapat memperbarui sumber daya kognitif bahkan di hadapan gangguan.

Lingkungan yang estetis dapat memberikan pengalaman yang bersifat memulihkan.

Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa tempat kerja yang menyenangkan secara estetika dapat membantu menciptakan kepercayaan dalam organisasi.

Mencari keseimbangan

Penelitian menemukan fenomena, bahwa setiap individu melihat lingkungan kerja yang serupa secara berbeda.

Daripada pendekatan pukul-rata, seperti yang dilakukan dengan tata ruang terbuka, lingkungan kerja sebaiknya menyediakan berbagai opsi yang mendukung karyawan untuk bekerja secara efektif.

Perkembangan model tata ruang kerja berusaha untuk mencapai hal tersebut, dengan menyediakan zona yang berbeda untuk berbagai jenis pekerjaan dan kebutuhan.
Namun, efek pengaturan meja bersama dalam lingkungan seperti ini perlu diteliti lebih lanjut.

Banyak perusahaan sangat fokus untuk mendorong kolaborasi dan interaksi dengan mengorbankan privasi dan konsentrasi. Ini menimbulkan dampak negatif pada produktivitas dan hubungan kerja.

Perusahaan atau organisasi perlu fokus untuk menyediakan tempat kerja yang mendukung kebutuhan karyawan akan privasi dan fokus, selain interaksi dan kolaborasi.

Untuk mencapainya, perlu penekanan yang lebih besar pada privasi auditori maupun visual, khususnya pada desain akustik, serta tata letak dan penampilan tempat kerja secara keseluruhan.(BBC)