Wednesday, 19 December 2018

Saat Pacaran Kenyang Puisi Menjadi Istri Kenyang Pukul

Jumat, 3 Agustus 2018 — 7:00 WIB
mending cerai

DULU Rinda. 24, mau menerima cinta Aldi, 30, karena terbuai oleh puisi-puisi indahnya. Setelah jadi suami istri, ternyata jiwa penyair itu tidak selalu lembut. Aldi asal marah demen main pukul, gampang tersinggung. Ketimbang mengalami tekanan batin, meski sudah ada anak satu Rinda milih bercerai saja.

Ketika lelaki sedang jatuh cinta, maka dia mendadak akan jadi penyair. Tidak keliru memang. Banyak lelaki yang kasmaran pada seorang wanita, langsung pintar menyusun kata-kata indah dalam bentuk puisi, mengalahkan Chairil Anwar atau Fadli Zon sekarang. Dan ternyata, banyak juga wanita yang bisa digombali lewat puisi-puisi dadakan itu, sampai akhirnya naik pelaminan, menjadi suami istri.

Ny. Rinda warga Putat Jaya Surabaya, adalah salah satu wanita yang mudah digombali lelaki lewat puisi. Saat di SMA dulu banyak cowok yang naksir dirinya. Salah satunya adalah Aldi. Dia bukan anak orang kaya, tapi punya kelebihan berjiwa sastra. Dia jika kirim surat padanya selalu dalam bentuk puisi. Tentu saja puisi cinta, bukan puisi politik sebagaimana Fadli Zon.

Aldi mahir memilih kata-kata puitis. Salah satunya yang sangat berkesan, “Rindumu di antara bebatuan dan kerikil-kerikil tajam”. Bila diartikan secara harfiah, jelas tak masuk akal. Mana ada rindu kok terselip di antara batu dan kerikil, memangnya sandal jepit hanyut terbawa arus? Tapi karena itu kata-kata puisi, jadi indah juga jadinya.

Masih banyak puisi-puisi maut Aldi, sehingga akhirnya Rinda klepeg-klepeg dibuatnya. Kala itu Aldi nampak galant sekali. Setiap ada cowok mendekati, dia langsung pasang kuda-kuda, menghalau secara santun. Maka semakin sayang saja Rinda pada sang arjuna. Dan saking cinta dan sayangnya, baru tamat SMA pun dia mau menikah dengan Aldi sang penyair.

Tapi ternyata, setelah menjadi suaminya, jiwa sastranya mendadak hilang. Dia tak pernah bikin puisi lagi, apalagi dikirim ke majalah dan suratkabar. Jadi rupanya Aldi memang penyair musiman, menjadi penyair gara-gara sedang jatuh cinta, bukan karena bakat seperti Chairil Anwar, Sutardji Calzom Bahri atau Fadli Zon sekarang.

Paling menjengkelkan karakter Aldi tak selembut dalam puisi-puisinya. Dia ternyata lelaki kasar. Jika dimuntai uang, malah ngomel sambil menuduh istri yang boros. Boros bagimana, orang  gaji suami memang kecil, ya tentu saja cepat habis. Beda kalau jadi Jubir Istana merangkap komisaris BUMN, dengan gaji hampir Rp 100 juta tentu saja duitnya awet.

Saat Rinda hamil, Aldi tak pernah memanjakan istrinya, malah sering ngelayap bersama teman-temannya. Dan itu lho, cengkiling (suka memukul)-nya minta ampun. Setiap tersinggung sedikit saja tangannya melayang.
Padahal saat ikut orangtua Rinda tak pernah diperlakukan seperti itu.

Tak tahan hampir setiap hari jadi sansak tinju, Rinda memilih bercerai saja, meski sudah ada anak satu. Apa tak kasihan dengan sibocah? Ya kasihan memang, tapi Rinda juga tak yakin dengan karakter bapaknya, si bayi akan menjadi anak baik dan sukses. Maka sudahlah, bercerai baginya lebih baik. Dia segera menyiapkan segala sesuatunya, untuk menggugat cerai ke Pengadilan Agama Surabaya.

Dulu suami penyair, besuk cari suami penyiar. (JPNN/Gunarso TS)