Saturday, 20 October 2018

Pelajaran di Balik Habisnya Buku Tilang

Senin, 6 Agustus 2018 — 6:44 WIB

PENERAPAN sistem ganjil-genap yang diperluas di Jakarta menjelang Asian Games 2018 banyak pelajaran dipetik. Mulainya banyak pelanggaran pengendara mobil dan adanya polantas yang kehabisan buku tilang. Itulah diantara peristiwa yang muncul dalam pengaturan lalu lintas ganjil-genap.

Ganjil-genap yang diperluas diterapkan mulai 1 Agustus 2018. Sistem ini mulai diberlakukan setiap hari mulai pukul 06:00 sampai dengan 21:00 atau selama 15 jam. Sesuai catatan pelanggaran terhadap sistem ganjil-genap antara 1.000 sampai dengan 1.600 mobil per hari.

Bahkan, hari keempat diberlakukannya sistem ganjil-genap atau tepatnya Sabtu, 4 Agustus 2018, ada petugas yang kehabisan buku tilang. Karuan saja, pelanggar lalu lintas di beberapa titik tidak ditilang tetapi cuma mendapatkan teguran.

Potret ini terjadi di Jalan Ahmad Yani. Tak sedikit pengendara yang melanggar bebas melaju dan hanya diberikan teguran. Ada juga yang balik arah. Petugas juga terlihat tidak menenteng buku tilang. Tidak adanya penilangan di ruas jalan itu diduga buku tilang sudah habis lantaran banyaknya kendaraan melanggar.

Pihak Polda Metro Jaya mengklaim buku tilang di kantor masih banyak. Namun, bisa saja buku tilang yang dipegang anggota habis. Pejabat di Polda Metro Jaya pun menjelaskan, dalam penegakkan hukum ada yang berupa justice (pemberian hukuman) dan non justice (teguran).

Penjelasan ini memang ada benarnya bahwa penegakkan hukum ada yang berupa justice dan non justcie.

Hanya saja bila aturan sudah resmi diberlakukan, seharusnya pelanggar tetap diberikan hukuman yang setimpal (justice). Dalam konteks ini ya tilang. Sebaliknya non justice diterapkan saat aturan itu masih uji coba.

Masih banyaknya pelanggar ganjil-genap dan adanya petugas yang kehabisan buku tilang sebenarnya ada pelajaran yang dipetik stakeholder baik itu pemerintah pusat, INASGOC, Polda Metro Jaya, maupun Pemprov DKI Jakarta.

Bisa saja maraknya pelanggar ganjil-genap karena sosialisasi aturan itu kurang makismal. Ingat adanya petugas kehabisan buku tilang tepat pada hari Sabtu yang biasanya sistem ganjil-genap atau three in one tidak berlaku.

Artinya bisa saja petugas tidak menduga pada hari yang sebagian pegawai libur pelanggaran masih banyak. Pendek kata ini adalah sebuah masukan untuk dijadikan bahan evaluasi.

Dan lebih penting lagi semua pihak harus mengedepankan asas persamaan di hadapan hukum (Equality Before The Law). Jangan sampai ada satu pelanggar ganjil-genap ditilang, tetapi pelanggar lain cuma ditegur. @*