Thursday, 13 December 2018

Membangun Kepedulian Tanpa Adanya Pemaksaan

Rabu, 8 Agustus 2018 — 5:03 WIB

IURAN para siswa untuk membeli hewan kurban sudah lazim dilakukan di sejumlah sekolah mulai dari TK, SD,SLTP hingga SLTA.Maksud yang dikandung dengan membeli hewan kurban tentu saja sangat baik, bersifat mendidik para siswa untuk memupuk kepedulian terhadap sesama.

Sebagaimana maksud berkurban adalah saling berbagi dari mereka yang lebih kepada mereka yang kurang mampu. Di sisi lain, iuran membeli hewan kurban menjadi implementasi adanya kebersamaan. Bersama memberikan bantuan, bersama peduli kepada sesama.

Hanya saja dalam memupuk kepeduliaan harus dilakukan dengan penuh kesadaran, bukan melalui pemaksaan.Berapa pun hewan kurban yang terkumpul dari hasil iuran, itulah bentuk kepedulian. Jumlah hewan kurban jangan dijadikan target oleh sekolah. Sebab, jika sudah bicara target di dalamnya ada proses pemaksaan untuk memperoleh iuran sebanyak mungkin. Ada angka minimal iuran masing – masing siswa agar uang yang terkumpul dapat mencapai target tertentu.

Dalam konteks iuran membeli hewan kurban, kami sependapat dengan kebijakanDinas Pendidikan DKI Jakarta yang melarang sekolah memungut iuran membeli hewan kurban dengan paksaan. Sumbangan hanya boleh dipungut dengan keikhlasan. Sering disebut sumbangan tanpa tekanan. Keikhlasan akan didapat jika tidak ada batas minimal sumbangan. Jika sudah ada batas minimal sumbangan, itu sudah mengarah kepada pemaksaan. Ada tekanan.

Kami dapat meyakini, orangtua murid tidak keberatan jika di sekolahnya anaknya diadakan iuran membeli hewan kurban, sekalipun ada batas minimal sumbangan. Tapi alangkah eloknya sekiranya pihak sekolah lebih membangun kesadaran untuk berbagi dan beramal, bukan kepada kebanggaan karena besarnya iuran untuk ikut berkurban.

Kita sepakat kepedulian harus dipupuk mulai dari sekarang, sejak masa kanak- kanak. Sekolah memiliki peran bagaimana memupuk kepedulian melalui beragam aktivitas, di antaranya membangun solidaritas untuk saling berbagi.

Hanya saja dalam prosesnya dihindari adanya pemaksaan dengan menerapkan iuran wajib untuk berkurban. Apalagi jika dibarengi dengan sanksi sosial bagi siswa yang tidak ikut iuran.

Sekolah yang mewajibkan sumbangan bagi siswa dengan dalih membeli hewan kurban, patut dipertanyakan urgensinya karena tak selaras dengan upaya membangun solidaritas. (*).