Sunday, 16 December 2018

RPTRA Kalijodo Terbengkelai Sikap Wagub Kok Mirip LSM?

Kamis, 9 Agustus 2018 — 6:50 WIB
sentilan kalijodo

DULU Kalijodo terkenal sebagai tempat mesum. Tapi di tangan Gubernur Ahok, berhasil disulap menjadi RPTRA yang asri. Tapi sepeninggal Ahok, RPTRA Kalijodo jadi terbengkelai. Sayangnya menyikapi hal ini Wagub Sandiaga malah bilang, DKI memang jago membangun tapi tak bisa merawat.

Kalijodo sebagai kawasan kumuh nan mesum, sudah melegenda. Di sini bisnis narkoba bercampur dengan uang lendir, sudah menjadi rahasia umum. Gubernur silih berganti, tapi Kalijodo tetap eksis, malah jadi sumber rejeki haram bagi oknum-oknum aparat.

Tapi di tangan Gubernur Ahok, dominasi Daeng Azis dan konco-konconya bisa dipatahkan. Kawasan mesum di pojokan Jakarta Utara itu berhasil diratakan, bahkan dedengkot Kalijodo Daeng Azis harus masuk penjara karena mencuri listrik PLN. Ahok pun menyulapnya menjadi kawasan RPTRA nan indah, bekerja sama dengan swasta (CSR).

Warga DKI masih ingat bagaimana Ahok dan keluarganya bercengkerama di RPTRA itu. Penduduk sekitarnya pun menikmati kenyamanan Kalijodo versi baru sebagai tempat rekreasi. Sama sekali tak nampak bahwa daerah itu pernah menjadi kawasan mesum legendaris.

Tapi setelah Gubernur Ahok kalah dalam Pilkada dan pemerintahan DKI dipegang Anies-Sandi, semuanya mendadak berobah. RPTRA Kalijodo itu tak lagi terurus, rerumputan mati tak disiram. Terasa menjadi gersang, sementara preman pun mulai masuk kembali ke kawsan itu.

Wagub Sandi saat mendapat informasi kondisi RPTRA Kalijodo sekarang, justru berkata, “DKI memang jago membangun, tapi tak bisa merawatnya. Maka jangan hanya bisa membangun, tapi dijaga.” Lho, kok aneh?

Kalimat itu terkesan Sandiaga bicara sebagai pihak luar, seperti halnya seorang LSM. Padahal dia adalah penguasa di DKI itu sendiri, menjadi Wagub Jakarta yang bersama Anies dipilih oleh 58 persen penduduk Jakarta. Jika Sandiaga punya “sense of belonging” (rasa memiliki) mestinya kondisi RPTRA dan fasilitas-fasilitas kota lainnya tetap terawat, meski sudah ditinggalkan Ahok. – gunarso ts