Tuesday, 14 August 2018

KH Ma’ruf Amin Sempat Tegang dengan Ahok Soal Telepon SBY

Jumat, 10 Agustus 2018 — 19:25 WIB
ahok+ma'ruf

JAKARTA – KH Ma’ruf Amin telah ditunjuk menjadi calon wakil presiden oleh  Jokowi untuk Pilpres 2019.  Di bagian lain, Jokowi dikenal dekat dengan Ahok (Basuki Tjahaja Purnama). Akan halnya Ma’ruf Amin dulu sempat dituding Ahok berbohong soal pembicaraan telepon dengan SBY. Apa yang terungkap dari persidangan itu, terutama tudingan Ahok tersebut  menimbulkan ketegangan besar di tingkat nasional.

Itulah yang dulu ramai menjadi pembicaraan publik dari sidang pengadilan Ahok di PN Jakarta Utara, sekitar bulan Januari-Februari 2017, kala itu sidang penodaan agama. Saat itu Ma’ruf disebut-sebut sebagai orangnya SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), sebab sebagai Ketua MUI ia diangkat di era Presiden SBY.

Pada Selasa (31/01/2017), Kuasa hukum Ahok dalam persidangan bertanya pada Ketua MUI Ma’ruf Amin yang saat itu dihadirkan sebagai saksi terkait proses keluarnya fatwa yang menyatakan Ahok melakukan penistaan agama.

Salah satu pertanyaannya adalah terkait ada tidaknya percakapan antara Susilo Bambang Yudhoyono dengan Ma’ruf Amin yang berisi desakan untuk mengeluarkan fatwa. Juga dipertanyakan tentang pertemuan antara Agus Yudhoyono dengan Ma’ruf Amin dalam kapasitasnya sebagai Rois Aam Nahdlatul Ulama pada 7 Oktober.

Ma’ruf Amin menyangkal ada percakapan langsung dengan SBY dan menolak bahwa dirinya dianggap mendukung Agus Yudhoyono yang maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta – walau mengakui ada pertemuan.

Kesaksian Ma’ruf Amin dalam persidangan berlangsung sekitar tujuh jam. Dan terkait itu Ahok dalam kutipan langsungnya mengatakan, “Dan saya berterima kasih, Saudara saksi ngotot di depan hakim bahwa saksi tidak berbohong. Kami akan proses saksi secara hukum saksi untuk membuktikan bahwa kami memiliki data yang sangat lengkap.”

Ucapan ini diartikan oleh sejumlah media bahwa Ahok akan memproses hukum Ma’ruf Amin terkait pernyataannya itu. Percakapan di media sosial mulai memanas terkait berita-berita yang menyebut bahwa Ahok akan memperkarakan pernyataan Ma’ruf Amin.

Berbagai cuit juga mengesankan bahwa Ma’ruf Amin seakan diperlakukan kasar dengan dicecar pertanyaan di ruang sidang selama berjam-jam.

Rabu (01/02/2017) pagi  beredar pernyataan Kuasa Hukum Ahok Humphey Djemat yang mengklarifikasi pernyataan Ahok.

“Statement Pak Ahok yang mengatakan ‘Kami akan proses secara hukum saksi untuk membuktikan bahwa kami memiliki data yang sangat lengkap…’ Itu ditujukan kepada saksi-saksi pelapor pada persidangan yang lalu dan bukan kepada Bapak Ma’ruf Amin,” katanya.

Pada Rabu (01/02/2017) Ahok meminta maaf terkait ucapannya dalam persidangan dan mengatakan itu adalah kesalahpahaman. Dia mengatakan bahwa ucapannya itu ditujukan untuk saksi pelapor, sementara Ma’ruf Amin bukanlah saksi pelapor.

“Saya meminta maaf jika apabila terkesan memojokkan beliau, meskipun beliau dihadirkan kemarin oleh Jaksa sebagai Ketua Umum MUI, saya mengakui beliau juga sesepuh NU,” katanya.

Saat itu sudah kadung membara kemarahan kaum Nahdliyin, karena tokoh tertinggi di ormas NU itu dianggap sudah dihina dan diperlakukan secara kasar oleh Ahok. Berbagai elemen NU seperdi sudah dikomando, dimana-mana siap membela Ma’ruf Amin.

Karena suasana memanas itu, sampai-sampai orang pemerintahan seperti Luhut Binsar Panjaitan menyambangi kediaman Ma’ruf di Jakarta Utara. Tak jelas benar apa yang dibicarakan oleh Luhut dan sang kyai. Namun, tampaknya sangat terkait dengan apa yang terjadi dalam persidangan Ahok tersebut.

Di bagian lain, pada Rabu (01/02/2017)SBY menggelar konferensi pers. Ia  mengakui bahwa ada percakapan langsung melalui telepon dengan Ma’ruf Amin walau isinya diklaim sama sekali tidak berhubungan dengan kasus Ahok.

Percakapan dengan Ma’ruf Amin menurut SBY dilakukan dalam konteks Ma’rif di PBNU, bukan MUI. SBY mengatakan jika dibangun opini bahwa dirinya mempengaruhi dikeluarkannya fatwa, dia mengatakan tanyakan saja pada MUI.

Terkait pernyataan kuasa hukum Ahok yang mengatakan mereka punya bukti percakapan telepon, SBY mengatakan bahwa itu adalah “kejahatan” karena “penyadapan ilegal.” Tidak jelas apakah kuasa hukum Ahok betul-betul melakukan penyadapan. (berbagai sumber/win)