Wednesday, 19 December 2018

Police Goes To Kampus, Polres Jakbar Hadirkan Mantan Napiter

Jumat, 10 Agustus 2018 — 21:46 WIB
Kapolres Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi
bersama BNPT memberikan pemahaman bahaya Radikalisme dan Terorisme di Kampus Binus. (ilham)

Kapolres Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi bersama BNPT memberikan pemahaman bahaya Radikalisme dan Terorisme di Kampus Binus. (ilham)

JAKARTA – Tangkal bahaya radikalisme dan terorisme, Polres Jakarta Barat bersama dengan Badan Nasional Pemberantasan Terorisme (BNPT) menggelar seminar “Police Goes To Kampus” kepada mahasiswa di Kampus Universitas Bina Nusantara (Binus), Jumat (10/8).

Di hadapan 600 mahasiswa baru Binus para mantan nara pidana teroris (Napiter) salah satunya Ustad Ali Fauzi Mansyur yang ikut menjadi narasumber memberikan pemahaman ancaman nyata bahaya radikalisme bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kapolres Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi mengatakan, peran mahasiswa dinilai sangat penting dalam upaya mencegah penyebaran paham radikalisme, sebab masyarakat menilai mahasiswa sebagai kaum intelektual dan contoh bagi masyarakat.

“Mahasiswa juga merupakan agen perubahan sekaligus generasi penerus bangsa. Maka, penting bagi mereka untuk mendapatkan pemahaman dan wawasan yang lebih tentang ilmu agama. Supaya mahasiswa juga bisa membantu mewujudkan kerukunan umat beragama,” kata Kombes Hengki.

Terkait radikalisme dan terorisme, lanjut Hengki, dalam sehari Polres Jakarta Barat menangkap 3 pelaku narkoba. Tak hanya itu saja dirinya telah menganalisa yang mana pada waktu lalu pihaknya menangkap pelaku jambret  tenda orange Teluk Gong yang menjadi korbannya adalah pejabat kementerian PUPR. Setelah dilakukan penyelidikan ternyata para pelaku ini semua positif menggunakan narkoba.

Selain itu, kata Hengki, salah satu ancaman terbesar adalah maraknya penyebaran berita hoax atau ujaran kebencian ( hate speech ). “Para pelaku teroris ini dengan mudahnya membayar para calon pengantin dengan media internet karena semakin berkembangnya era zaman maupun teknologi semakin kuat mendorong ajaran radikalisme mudah masuk ke masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Satgas Anti Teror Polri BNPT, AKBP Didik Novianto menjelaskan, saat ini para pelaku terorisme ini sudah sangat mudahnya melakukan penyebaran paham Radikalisme baik itu menggunakan medsos, media masa maupun lingkungan kita sehari-hari.

“Kita mendapat pengalaman dari penangkapan salah satu terorisme. Ironisnya,  yang kami amankan masih seorang anak-anak.  Dia mendapat paham tersebut dengan melakukan download pemahaman melalui situs internet sehingga ingin melakukan jihad. Dan nyatanya apa yang ada di Suria itu tidak seperti apa yang menjadi pemahaman yang didapatnya melalui internet,”Jelasnya

Pada kesempatan yang sama, Ustad Ali Fauzi Mansyur salah satu Narasumber dari napiter menjelaskan bagaimana dunia kelam dirinya dimasa lalu akan sesatnya dari sebuah ajaran paham Radikalisme ini. Ia menyebutkan tentang bahaya dirinya saat itu menjadi pelaku utama teror disejumlah wilayah baik nasional maupun internasional. Ia juga sebagai perekrut para calon terorisme hingga cara perakitan bom maupun cara menggunakan senjata api.

Pada kesempatan itu, Polres Jakarta Barat menampilkan sebuah karya seni pembacaan puisi dengan judul “Bangkitlah Pemuda Pemudi Bangsaku” sebuah karya dari Kasat Intelkam Polres Jakarta Barat AKBP Yuniar yang dibacakan oleh Iptu Dimitri Mahendra. (ilham/win)