Tuesday, 14 August 2018

Tahapan Pilpres Dimulai, Mari Kendalikan Diri

Sabtu, 11 Agustus 2018 — 5:29 WIB

TAHAPAN Pilpres 2019 telah dimulai. Dua pasangan bakal Calon Presiden – Calon Wakil Presiden sudah mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Pasangan Joko Widodo – Ma’aruf Amin didukung koalisi 9 parpol yaitu PDIP, Golkar, PKB, PPP, Nasdem, Hanura, Perindo, PSI, dan PKPI. Sementara pasangan Prabowo Subiato – Sandiaga Salahuddin Uno didukung koalisi 5 parpol, masing – masing Partai Gerindra, PKS, PAN, Demokrat dan Partai Berkarya.

Komentar terkait kedua pasangan calon tersebut mulai diunggah ke publik. Dapat diduga komentar akan lebih mengarah kepada sisi baik, keunggulan atau kelebihan pasangan yang didukung. Sebaliknya lebih mengkritisi pasangan calon yang tidak didukung.

Ini sah – sah saja.Sebab, tidaklah mungkin pasangan yang diusung akan dikomentari tidak baik, kurang layak atau apapun istilahnya yang intinya tidak bagus. Kalaupun ada kekurangan yang dirasakan, tidaklah mungkin diumbar kepada  publik. Setidaknya diamankan untuk sementara waktu. Kalau pun terlanjur diketahui publik, tentu akan diklarifikasi dengan harapan masyarakat kemudian dapat memaklumi.

Apakah ini termasuk penyembunyian fakta? Jawabnya dapat dikatakan demikian, jika sampai kepada aksi untuk menghilangkan barang bukti. Kalau sebatas mengeliminir kekurangan agar isu tidak berkembang liar, itu bagian dari strategi pencitraan. Dan, itu tidak dilarang.

Ibarat sebuah pertandingan bola, begitu memasuki lapangan harus bertekad untuk memenangi pertandingan. Beragam cara dapat dilakukan agar mampu mengungguli lawan sepanjang dilakukan sesuai aturan main, jujur dan sportif.

Begitu pun untuk memenangi Pipres. Kejujuran dan sportivitas hendaknya yang lebih dikedepankan. Rambu- rambu yang sudah dipasang oleh KPU harus dipatuhi bersama. Tidak mematuhi rambu, berarti pelanggaran. Menggeser rambu, berarti kecurangan.

Kita berharap perhelatan Pilpres akan dapat berjalan dengan jujur dan adil. Strategi memenangi Pilpres dilakukan dengan penuh etika dan santun. Keteladanan para elite politik diperlukan dengan memberikan komentar yang menyejukkan, bukan menambah kegaduhan. Bagi para simpatisan dan pendukung, hindari penyebaran isu bernuansa SARA, ujaran kebencian (hate speech) dan berita bohong (hoax) karena Polri akan dengan mudah mendeteksi.

Perlu kedewasaan dalam menyikapi situasi dengan tidak serta merta menyebarkan info yang belum jelas asal usul dan narasumbernya. Silakan beri dukungan kepada pasangan calon yang sekiranya mampu membawa perubahan, kemajuan dan kejayaan. Karena kemajuan dan peningkatan kesejahteraan itulah yang didambakan rakyat. (*).