Tuesday, 20 November 2018

Demokrat Dukung Prabowo Pilih Pada Gelombang Ke-2

Senin, 13 Agustus 2018 — 6:25 WIB
sentilan koalisi prabowo

PARTAI Demokrat terlalu pede. Menghadapi Pilpres 2019, partainya SBY ini siap berkoalisi dengan parpol lain asal AHY dipasang sebagai Capres atau Cawapres. Tapi sampai hari akhir pendaftaran Capres-Cawapres, jago AHY tak laku. Terpaksalah Demokrat kemudian dukung Prabowo pada gelombang ke-2, yakni pasca deklarasi.

Ibarat seorang gadis, Demokrat ini merasa paling cantik nan seksi, kulit putih bersih, rambut panjang, betis mbunting padi. Maka menuju Pilpres 2019, dia pasang harga tinggi-tinggi. Siap dilamar (berkoalisi) dengan parpol manapun asal AHY putra sang Ketum dipasang sebagai Capres atau Cawapres.

Tapi semua parpol tahu, AHY ini tokoh yang dijual karena mengandalkan nama besar sang ayah, mantan Presiden RI dua periode. Jadi ketokohannya terkesan dipaksakan, jika tak mau disebut karbitan. Bahkan politisi Gerindra Arief Poyuono menilai, meskipun AHY ini tokoh muda, tapi jika di dunia perwayangan kelasnya masih Wisanggeni. Dia tak ikut Perang Baratayuda karena dimatikan lebih dulu oleh dewa penguasa Kahyangan.

Untuk memasarkan jagonya, Demokrat selalu mengalami pasang surut baik ketika menghadapi kubu Jokowi maupun Prabowo. Kelihatan sudah mesra, tapi begitu ada suara miring elit politiknya, langsung renggang. Tapi memang aneh sih sejumlah elit politik Demokrat. Meski SBY bilang AHY Capres-Cawapres bukan harga mati, tapi para elit politiknya selalu menekankan: AHY harus Capres atau Cawapres.

Rencana koalisi dengan Jokowi bubar gara-gara ada “polisi tidur” yang jadi hambatan. Mendekati Prabowo juga terjadi tarik ulur yang melelahkan. Prabowo siap menggandeng AHY, tapi PKS-PAN tidak setuju. Sebab PKS selalu mendesak Prabowo untuk memperhatikan rekomendasi Istimak Ulama.

Melihat Prabowo yang terus mendekati SBY, Demokrat pun merasa di atas angin. Tapi seperti kubu Jokowi, Kamis malam menjelang deadline pendaftaran Capres-Cawapres, terjadi kejutan. Saat dideklarasikan, yang jadi Cawapres Prabowo bukan AHY, melainkan Sandiaga Uno.

Tentu saja Demokrat sangat kecewa, isyu Sandiaga bagi-bagi duit ke PAN dan PKS dihembuskan. Bahkan Prabowo diolok-olok sebagai “jendral kardus”. Meski kecewa, Demokrat memang harus ambil sikap ketimbang kena sanksi KPU. Menjelang pendaftaran Capres barulah bergabung ke kubu Prabowo pada gelombang ke-2, karena terjadi setelah deklarasi.

“Ramalan” Arief Poyuono ternyata benar, Wisanggeni AHY tak ikut dalam perang Baratayuda. Sebagaimana puisi Chairil Anwar, gadis manis Demokrat itu akhirnya iseng sendiri. – (gunarso ts).