Tuesday, 25 September 2018

Memaknai Arti Kemerdekaan

Senin, 13 Agustus 2018 — 8:01 WIB

SETIAP KALI memasuki bulan Agustus, kita juga memasuki Bulan Kemerdekaan. Berbagai kemeriahan dari warga untuk warga diselenggarkan menyambut acara“Agustusan” – sebutan umum untuk acara-acara meriah dari warga menyambut HUT Kemerdekan RI.

Juga menghadapi pertanyaan yang sama, bagaimana memaknai kemerdekaan dalam kehidupan kita di hari ini – dengan inspirasi dari perjuangan para pendahulu kita di masa lalu.

Di antara kenangan mendengarkan berbagai lagu patriotis, ‘Hari Kemerdekaan’,‘Berkibarlah Benderaku’, ‘Maju Tak Gentar’, ‘Dari Sabang Sampai Merauke’ dan lainnya, kita merenungkan kembali makna kemerdekaan.

Di pelosok ibukota dan juga daerah berbagai kegiatan menyambut “Agustusan” sudah dimulai, dengan rapat-rapat warga, penyelenggaraan berbagai lomba, semua memberi makna kegembiraan menyambut Kemerdekaan RI, yang tahun ini masuk tahun ke-73.

Momen-momen perjuangan kemerdekaan dari para tokoh dan pejuang di lapangan juga diunggah ulang, menandai fajar hari kebebasan bangsa Indonesia dari segala bentuk penjajahan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Sebelum menjadi negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) seperti sekarang, perjuangan menghadapi penjajahan dilakukan secara parsial, kewilayahan, terserak-serak, dan lemah, sehingga begitu mudah dikalahkan dan dilumpuhan. Lalu Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes memutuskan untuk bersatu.

Negeri ini pun kini telah merdeka. Telah bebas. Tapi bebas tidak sepenuhnya. Karena tidak ada bangsa yang bebas sepenuhnya, tidak ada manusia yang bebas sepenuhnya. Kebebasan tetap relatif. Lebih dari itu, kebebasan diiringi dengan tanggung jawab. Kitalah sekarang yang harus mengisi kemerdekaan itu.

Kita telah bebas dari cengkeraman politik penjajah, tapi belum lepas dari cengkeraman kemiskinan dan kebodohan, cengkeraman ekonomi pemodal besar, negara asing, berbagai kejahatan di sekitar yang mengintai sewaktu-waktu.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, prestasi Indonesia dalam menekan kemiskinan hingga mengalami titik terendah dalam hal persentase sejak tahun 1999, yakni sebesar 9,82 persen pada Maret 2018. Dengan persentase kemiskinan 9,82 persen, jumlah penduduk miskin atau yang pengeluaran per kapita tiap bulan di bawah garis kemiskinan mencapai 25,95 juta orang.

Jika ditarik mundur, pada 1999 Indonesia mencatat persentase kemiskinan paling tinggi, sebesar 23,43 persen atau setara dengan 47,97 juta penduduk miskin. Angka kemiskinan pada tahun-tahun berikutnya secara bertahap menurun meski sempat beberapa kali naik pada periode tertentu.

Laporan itu memperlihatkan prestasi positif, namun juga keprihatinan. Betapa sulitnya menurunkan angka kemiskinan selama ini, sehingga pemerintah perlu bekerja lebih keras lagi. Kebijakan-kebijakan yang tepat sasaran akan membuat penurunan kemiskinan menjadi lebih tepat.

Hal yang mendesak diatasi sekarang adalah masalah kesenjangan, khususnya kesenjangan di antara si miskin dan si kaya, kemiskinan di antara desa dan kota, pusat dan daerah dan seterusnya.

Kemiskinan adalah induk dari banyak masalah bangsa kita saat ini. Karena akibat kemiskinan, rakyat tidak bisa mengakses pendidikan – sebagai modal untuk kemajuan bangsa.

Kemiskinan juga menghambat akses pada kesehatan masyarakat, meski layanan pengobatan gratis namun asupan gizi yang rendah dari keluarga miskin, akan sulit mendapatkan generasi yang cerdas dan bermutu.

Dengan kesehatan yang baik dan kemampuan mendapat akses pendidikan yang bermutu, akan terbentuk jiwa- jiwa mandiri dan menghasilkan generasi yang bebas dari kemiskinan. Melahirkan produk- produk kreatif di era ekonomi kreatif.

Pembangunan berbagai infrastruktur di berbagai pelosok – yang gencar dilakukan oleh pemerintah saat ini – dimaksudkan untuk memperlancar distribusi hasil bumi, lewat jalan-jalan yang mulus dan lancar, sehingga buah- buahan dan sayuran, lebih cepat dan lebih mudah terkirim ke pasar, ke konsumen. Tidak mengalami pembusukan. Petani lebih mudah mendapat uang dan terbebas dari kemiskinan.

Lewat pembangunan bendungan- bendungan yang ditujukan untuk memastikan ketersediaan air dan memeratakannya, sehingga aneka hasil bumi bisa ditanam para petani dan tumbuh subur, terus-menerus. Swadaya produk pangan segera terwujud.

Memasuki usia yang ke-73, bangsa Indonesia terus berupaya agar merdeka dengan segala aspeknya.

Selain giat membangun fisik, juga menggerakkan revolusi mental untuk memerdekakan pola pikir rakyat, termasuk kelas menengah dan kaum elite kita. Pola pikir keliru menerima subsidi yang membebani negara, bercita-cita jadi PNS/ BUMN agar aman di hari tua, diubah dengan melahirkan generasi muda yang ‘menciptakan’ pekerjaan! Bukan ‘mencari’ pekerjaan. Usaha- usaha baru yang membuahkan ekonomi baru.

Sambil menikmati lomba makan kerupuk, panjat pinang, pertandingan bola volley dan futsal, aneka kegiatan masyarakat yang menggembirakan bersama di Hari Kemerdekaan RI ke-73 ini, mari kita tunjukkan solidaritas
kita dengan saudara sebangsa setanah air yang sedang dilanda musibah bencana alam di Bali dan Lombok, juga di daerah lain, untuk mempererat persaudaraan kita sebagai satu bangsa dalam bingkai NKRI, Pancasila, dan Merah Putih. (*)