Wednesday, 19 September 2018

Kedepankan Politik Santun

Selasa, 14 Agustus 2018 — 5:29 WIB

PERANG pernyataan sudah mulai ditebar. Meski tim sukses dari masing- masing pasangan calon Presiden – Wapres secara resmi belum terbentuk, tapi komentar dari para kader partai pendukung sudah mulai diunggah.

Kita perlu menghargai komentar yang disampaikan, tetapi kita pun wajib mengingatkan agar komentar tidak berimbas kepada terbentuknya embrio menuju perpecahan.

Dalam konteks inilah kita perlu merenung kembali untuk lebih mengedepankan cara – cara berpolitik santun, santun dalam berpolitik. Kepala negara, ketua lembaga tinggi negara, tokoh ulama sering mengingatkan kepada semua elit politik agar memberikan pendidikan politik yang baik kepada generasi penerus. Di antaranya memberi keteladanan praktik berpolitik secara santun dan beretika.

Ini dapat dimaknai bahwa komentar ataupun pernyataan yang terkait dengan pilpres dilakukan secara baik, benar dan tepat sasaran. Baik dalam penyampain, benar sesuai data dan fakta, serta tepat sararan kepada yang dituju.

Karena itu semua pihak yang terlibat dalam kontestasi, terutama tim sukses paslon Presiden dan Wapres 2019-2024 hendaknya mengedepankan adu program, adu gagasan.

Lebih mengutamakan penajaman visi dan misi, ketimbang mencari- cari kekurangan lawan politiknya. Bukan mengumbar aib, apalagi yang bersifat sangat privacy. Repotnya lagi terhadap isu yang belum jelas asal – usulnya.

Black campaign menyebar fitnah dengan maksud pembunuhan karakter merupakan cara berpolitik yang tidak sehat. Jauh dari sikap santun.

Kita tentu tak ingin perhelatan pilpres menjadi ajang ‘pembantaian’, saling serang dengan mengumbar aib pribadi yang pada gilirannya hanya akan mendatangkan gesekan, tidak saja di level elit politik, juga di akar rumput.

Di sisi lain penyebaran aib pribadi lawan, belum tentu berimbas kepada menurunnya dukungan. Boleh jadi akan berbalik meningkatkan dukungan karena munculnya rasa empati kepada mereka yang teraniaya karena aibnya diumbar sedemikian rupa.

Menyoroti kekurangan lawan politik tidaklah dilarang, sepanjang masih dalam kaitan uji kemampuan, kualitas dan profesionalitas. Tapi jika sudah mengumbar aib pribadi, bukan simpati yang didapat, malah rasa antipati.

Di sinilah peran tim sukses dan relawan mengatur strategi pencitraan yang berpedoman kepada politik santun. Bukan politik adu domba, saling hasut dan saling hujat.
Dengan politik santun dapat meredam konflik baik di elit politik maupun pada masyarakat di lapis akar rumput.  (*).