Monday, 19 November 2018

Kita Sudah 73 Tahun Merdeka Yang Makmur Pejabat-Politisi

Kamis, 16 Agustus 2018 — 6:40 WIB
warisan

BESOK tanggal 17 Agustus 2018, kita bangsa Indonesia memperingati HUT ke-73 RI . Sudah lebih dari tujuh dekade kita lepas dari panjajahan Belanda. Sayangnya masyarakat yang adil makmur yang diperjuangkan para pendahulu kita belum semua menikmati. Hingga kini yang makmur kebanyakan kalangan politisi dan pejabat birokrasi.

Bung Karno pernah mengatakan, kemerdekaan adalah jembatan emas untuk memerdekakan rakyat Indonesia dari keterbelakangan. Jembatan emas itu sudah kita lewati, alhamdulillah tak ada yang mempreteli (baut-bautnya). Kita rakyat Indonesia juga sudah terlepas dari keterbelakangan; duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa sejagad.

Sayangnya masyarakat adil makmur yang didambakan pendiri republik, belum semua bisa dinikmati rakyatnya. Jika ada kemakmuran, yang menikmati baru kalangan pejabat dan politisi, lebih-lebih setelah era reformasi. Orang berebut jadi politisi dan pejabat nawaitunya justru ingin kaya.

Begitu serakahnya kaum politisi, pejabat birokrasi pun kini banyak diisi golongan mereka melalui pilkada. Ada memang satu dua yang berhasil membangun wilayah, lainnya kebanyakan mlenyek (buruk). Bahkan paling parah, saat dia mengumpulkan kekayaan dengan cara-cara tak benar, kena OTT KPK.

Sekedar contoh, Fuad Amin, bupati sekaligus Ketua DPRD Bangkalan. Hartanya bisa lebih dari Rp 400 miliar karena dari getolnya terima suap. Padahal disaat yang sama, rakyat masih hidup miskin. Mereka merdeka hanya dari penjajahan, tapi belum terbebas dari kemiskinan.

Jadi politisi memang cara gampang mengumpulkan kekayaan lewat kekuasaan. Jangankan yang masih muda, yang sudah bau tanah saja doyan juga akan kekuasaan, tak peduli harus berkhianat atau menjegal teman sendiri. Maka ada yang bilang, kekuasaan itu memabokkan.

Buya Syafii Maarif kemarin menyanjung seorang politisi muda sebagai “politisi sejati”, karena sepakterjangnya yang memalukan. Itu sekedar kata sindiran, sebab politisi yang “sejati” itu harus berani mencla-mencle, berkhianat pada teman sendiri, berani bohong, mengkorupsi kebenaran, dan bla bla bla …..yang lain. – gunarso ts