Wednesday, 26 September 2018

Tiga Tahun Dicolok Ayah Tiri Memangnya Stop Kontak PLN?

Kamis, 16 Agustus 2018 — 7:05 WIB
nolak

AGAKNYA Sandiman, 45, lelaki dari Kotagede Yogyakarta ini nafsunya terlalu gede. Punya anak tiri usia ABG, Minul, 17, selama 3 tahun dicabuli dan dicolok-colok organ intimnya. Memangnya stop kontak listrik PLN? Tak terima perlakuan ayah tirinya, dia mengadu ke paman dan jadilah urusan polisi.

Terlalu sering dimuat di kolom ini, ayah tiri yang nggragas, yang tega mencabuli anak perempuan bawaan istri. Tapi meski diolok-olok banyak pembaca, pelaku-pelaku berikutnya terus saja ada dengan berbagai farian kisahnya. Biar nyaho, apa pelaku pencabulan anak tiri ini seyogyanya dikebiri saja? Kan bagus juga tuh. Sebab kucing saja bila dikebiri jadi gemuk, apa lagi orang.

Praktisi “sastro pandelepan” (suka ganggu wanita) kali ini adalah Sandiman, warga Kecamatan Kotagede, Bantul, DIY. Sekitar 10 tahun lalu dia menikah dengan Ny. Kimah, 40, yang kebetulan punya anak gawan Minul namanya. Kala itu masih bocah, usianya saja baru 7 tahun. Karenanya di kala itu anak bawaan istri tersebut belum masuk perhitungan atau agenda asmara Sandiman.

Sayang perkawinan Sandiman – Kimah itu tak memberi keturunan, tiap malam hanya kringeten thok tanpa hasil. Lama-lama keduanya menjadi jenuh, sehingga meski suami istri tapi kini sekedar persahabatan saja tak ada lagi pertandingan. Berangkat tidur pukul 22.00, pukul 04.00 sudah bangun. Sebagai bapak yang rajin, Sandiman habis bangun tidur terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi menolong ibu, membersihkan tempat tidurnya.

Waktu terus berjalan. Minul yang dulu masih imut-imut kini sudah berusia ABG. Wih, ternyata cantik juga di masa pertumbuhan. Sandiman yang lama wiranu (suwi ora nganu), belakangan sering mengerucut nafsunya gara-gara melihat penampilan Minul. Maka sekali waktu, pas anak tiri itu masih dibuai mimpi jam 05.00 pagi, diraba-raba daerah sensitipnya.

Tentu saja Minul terbangun, tapi begitu bangkit langsung diancam. Kalau teriak apa lagi lapor ibunya, tak ada lagi dana talangan untuk biaya sekolah. Malah kalau perlu, ancaman model pelawak Kadir pun dilancarkan, “Tak bunuh kamu!” Tentu saja Minul jadi mengkeret, kaya politisi gagal nyawapres karena tak dilirik parpol.

Sejak itu Minul harus rela tiap pagi diraba-raba dan dicolok-colok daerah cagar alamnya. Itu dilakukan sejak ABG itu duduk di bangku SMP hingga SMA. Memang hanya meraba dan mencolok-colok saja, tapi bagi Minul kan jadi risih. Memangnya stop kontak Broco, apa?

Dia pun memberanikan diri lapor pada paman dan kemudian diteruskan ke Polsek Kotagede. Tanpa menunggu lama, ayah tiri celamitan itu ditangkap. Dalam pemeriksaan dia mengakui, sangat terangsang pada anak tirinya itu. Namun demikian dia mengaku masih tahu batas-batas garis demarkasi, sehingga tak sampai terjadi persetubuhan.

Bener, nggak pakai serangan umum 1 Maret 1949? (KR/Gunarso TS)