Thursday, 20 September 2018

Api AG-18 Padam Di Jokowi, Digoreng Oposisi & Medsos

Senin, 20 Agustus 2018 — 6:45 WIB
sentilan api obor

API obor Asian Games (AG) disakralkan. Ketika AG-18 berlangsung di Indonesia, api AG  didatangkan dari India lalu “berkoalisi” dengan api Mrapen (Jateng), baru diarak ke Jakarta. Tapi menjelang acara pembukaan, di tangan Presiden Jokowi api tersebut sempat mati. Tak ayal medsos dan oposisi “lambe turah” segera menggorengnya: pertanda apa?

Setelah 56 tahun menunggu, Indonesia kembali dapat kepercayaan menjadi tuan rumah AG-18 di tahun 2018. Tahun 1962 RI pernah dapat kepercayaan sebagai tuan rumah AG-4. Presiden Sukarno mati-matian menyiapkan infrastrukturnya, sampai-sampai dibantu Uni Soviet pendanaannya.

Sebagai bangsa yang baru 17 tahun merdeka, kemampuan ekonomi kita masih rapuh. Maka kaum “lambe turah” di jaman itu mengatakan “proyek mercusuar” ketika Bung Karno membangun Hotel Indonesia, Tugu Selamat Datang di Bunderan HI, gedung Istora Senayan, termasuk juga TVRI.

Jokowi yang jadi presiden RI saat AG-18 berlangsung, sudah lumayan enak. Infrastrukturnya jauh lebih komplit,  postur APBN kita juga lebih kuat sehingga  mampu menganggarkan sendiri pendanannya sampai Rp 6,3 triliun. Pelaksanannya kemudian dipercayakan kepada Gubernur DKI Jakarta dan Sumsel selaku tuan rumah. Presiden Jokowi tinggal meresmikan.

Jakarta dan Palembang all out menyambut dan menyelenggarakan AG-18. Kebetulan berbarengan dengan peringatan 17 Agustus. Maka semarak tujuhbelasan berkurang, karena fokus ke AG-18. Tahun lalu tiap RW di Ibukota wajib gelar upacara bendera, kini ditiadakan. Pokoknya semua tercurah untuk AG-18, sehingga yang jadi RW pun  ada yang lebih sibuk urusan AG-18 ketimbang pelayanan masyarakat.

Agar AG-18 lebih spektakuler di tengah harapan Presiden menjadi 10 besar dalam kejuaraannya, api obor AG-18 tersebut sengaja didatangkan dari India, tempat berlangsungnya AG-1. Dibawa ke Indonesia pakai pesawat Hercules TNI-AU, kemudian dikawinkan dengan api Mrapen dari Grobogan Jateng. Dari Prambanan DIY, api AG-18 itu diarak menuju Jakarta.

Tapi saat api obor AG-18 itu diserahkan ke Presiden, dan Jokowi membawa lari keliling Istana, mendadak pettt…..api itu mati! Meski sudah dinyalakan dengan api lain, tak urung jadi bahan gorengan kaum oposisi yang nyata maupun di medsos. Kata mereka, ini pertanda 2019 Jokowi harus kembali ke Solo. Namanya juga “lambe turah”, semua diotak-atik biar mathuk (cocok). – (gunarso ts)