Friday, 21 September 2018

Ironi Kekerasan Pelajar

Selasa, 21 Agustus 2018 — 4:34 WIB

DUNIA pendidikan pekan ini kembali dinodai dengan aksi kekerasan yang menimpa seorang siswa SMK di Jakarta Selatan yang dilakukan oleh kakak kelasnya. Penganiayaan dilakukan di dalam kelas disaksikan siswa-siwa lainnya. Pelajar ini mengalami luka parah, bahkan limpanya pecah.

Bukan hanya di Jakarta, kekerasan demi kekerasan masih saja terjadi di kalangan anak dan remaja, juga terjadi di daerah lain. Belum lama terjadi, di Garut, Jawa Barat, seorang bocah SD menikam temannya menggunakan gunting hingga tewas. Pemicunya padahal sepele, buku salah satu dari mereka hilang.

Sungguh mengerikan fenomena ‘homo homini lopus’ atau ‘manusia menjadi srigala terhadap sesamanya’ kini menggejala di kalangan generasi muda.

Kasus-kasus di atas hanyalah sebagian dari deretan peristiwa kekerasan dengan pelaku dan korbannya pelajar. Belum lagi kasus lainnya, tawuran misalnya, yang juga kerap merenggut nyawa pelajar.

Aksi yang dilakukan anak-anak dan remaja belakangan ini seperti di luar nalar karena bukan lagi kenakalan biasa, melainkan menjurus ke aksi kriminal. Apakah ada yang salah dalam sistem pendidikan kita ? Atau pengaruh teknologi informasi yang begitu pesat dengan tontotan kekerasan yang mudah diakses anak-anak.

Kita tidak perlu saling menuding, menyalahkan satu sama lain. Pendidikan bagi anak adalah tanggungjawab bersama baik keluarga, tokoh masyarakat, tokoh agama, lingkungan tempat tinggal maupun sekolah.

Usia anak hingga remaja adalah usia labil. Pada usia rawan itu anak mencari jatidiri, pengakuan dan perhatian. Saatnya seluruh elemen masyarakat membuka mata dan peduli pada fenomena kekerasan di kalangan generasi muda.

Pendidikan dimulai pada lingkungan terdekat, yakni keluarga. Karakter anak dibentuk dari dalam rumah, sehingga orangtualah yang wajib menjadi garda terdepan dalam mendidik, mengawasi serta membentengi anak dari pengaruh negatif.

Di luar rumah, anak berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggal, serta di sekolah tempatnya menimba ilmu. Tapi bukan berarti sekolah lepas tangan pada pembentukan karakter anak. Dan yang paling bertanggungjawab pada perkembangan generasi muda di negeri ini adalah pemerintah. **