Friday, 21 September 2018

JANGAN ADA TAFSIR POLITIK DI OLAHRAGA

Kamis, 23 Agustus 2018 — 6:16 WIB

Oleh H.Harmoko

SUASANA hari Kemerdekaan 17 Agustus 2018 masih sangat terasa. Momentum seperti ini memang selalu mengendap dan terasa tiap tahun menjelang maupun sesaat setelah harinya tiba.

Setiap memasuki bulan Agustus, mesyarakat Indonesia antusias membuat berbagai acara perayaan. Apalagi 17 Agustus kali ini bersamaan dengan digelarnya Asian Games, sebuah kegiatan olahraga terbesar di Asia, sehingga sedikit lebih istimewa. Karena olahraga multy event ini disebut-sebut kegiatan terbesar kedua sejagat setelah olimpiade.

Kita sebagai bangsa tentu saja merasa bangga menjadi tuan rumah olahraga yang bergengsi tinggi ini. Apalagi belum tentu 20, 30 atau bahkan 50 tahun mendatang kita bisa dipercaya menjadi tuan rumah lagi seperti sekarang.

Ini merupakan kali kedua setelah Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah Asian Games yang pertama pada 1962. Artinya setelah 56 tahun berlalu, baru bangsa kita dipercaya menjadi tuan rumah kembali.

Keterlibatan masyarakat pada penyelenggaraan Asian Games 1962 kala itu sungguh luar biasa. Rasanya mustahil Indonesia bisa menggelar acara tersebut tanpa partisipasi masyarakat. Sungguh menakjubkan, karena saat itu Indonesia baru berusia 17 tahun.

Dunia tercengang dengan keberanian Indonesia menjadi tuan rumah. Terlebih ketika Presiden Soekarno menampilkan sebuah rancangan stadion berkelas internasional di saat kondisi negara masih belum stabil. Presiden merancang Stadion Gelora Bung Karno yang akan menjadi arena pertandingan Asian Games dimana Indonesia menjadi tuan rumahnya. Selain itu juga penginapan atlet, Presiden Soekarno membangun Hotel Indonesia yang kini menjadi salah satu bangunan bersejarah dan cagar budaya bangsa.

Hebatnya lagi, pada perhelatan olahraga maha besar di level dunia kala itu, Indonesia mampu mencapai hasil maksimal dengan menjadi runner-up dengan perolehan 77 medali, 21 emas, 29 perak dan 30 perunggu kalah dari Jepang dengan total 161 mdali.

Tidak hanya penyelenggaraan yang dinilai berhasil tetapi juga prestasi yang membanggakan. Sekali lagi, saat kondisi bangsa kala itu bisa dibilang masih labil karena baru menginjak usia dewasa secara umur. Belum lagi berbagai urusan lain terutama masalah ekonomi dan politik.

Wajar saja kalau jauh hari sebelum pembukaan Asian Games 2018, Presiden Joko Widodo sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas sukses tidaknya Asian Games 2018 saat ini sempat gusar dan gemas.

Terutama ketika momentum olah raga terbesar di Asia itu kembali hadir di bumi nusantara justru gregetnya tidak terasa. Berkali-kali sang Presiden mengingatkan penyelenggara akan pentingnya sosialisasi dan promosi kegiatan. Presiden merasa semua masih adem-adem saja kecuali kehebohan persiapan fasilitas. Sampai-sampai Presiden memberi contoh, hingga setiap saat tampil di muka publik mengenakan pakaian bernuansa Asian Games. Presiden juga menginstruksikan agar instansi pemerintah ikut mensosialisasikan Asian Games.

Nyatanya, geliat keterlibatan masyarakat juga relatif minim dan baru agak terasa beberapa bulan menjelang hari “H”. Itu pun sebatas kegiatan-kegiatan seremony, mengarak obor Asian Games sehingga belum menyentuh hal-hal kreatif khas Indonesia. Kalah meriah dengan kemeriahan Piala Dunia yang jelas-jelas Indonesia hanya jadi penikmat.

Kegiatan ini jadi seperti milik orang tertentu saja. Masyarakat terkesan seperti hanya menjadi penonton, hanya ketempatan acara, hanya penggembira. Seperti tamu di pertemuan besar, atau bahkan jadi penonton bayaran sehingga kita sebagai masyarakat tidak terlibat apa-apa yang akan terjadi. Kurang ada kegiatan langsung kecuali saat ada pawai obor.

Padahal mestinya masyarakat bisa digerakkan melalui lomba membuat souvenir, lomba olah raga ala kampung dan entah apa lagi yang bisa memeriahkan kegiatan ini. Mungkin saja ada aturan-aturan tertentu yang harus ditaati, yang penting tidak bertentangan.

Semoga saja kesan itu keliru setelah pembukaan yang sangat meriah itu. Setidaknya dari prestasi kita, atlet-atlet kita bisa menjadi tuan rumah yang baik, sekaligus peserta yang membanggakan. Tidak hanya sebagai penyelenggara tetapi juga prestasi.

Kalau pada tahun 1962, dunia tercengang dengan keberanian Indonesia dan prestasi menjadi tuan rumah Asian Games, kali ini mereka akan takjub karena kita mampu mengulang kejayaan itu.

Dalam dunia olahraga mestinya tidak ada tafsir politik meskipun di Indonesia sekarang ini merupakan tahun politik. Harapan kita, tentu tidak ada celah memanfaatkan atau menjatuhkan dalam Asian Games ini seperti di politik.*