Monday, 24 September 2018

Sudah Tunjukkan Bukti Siri Tetap Diguyur Air Comberan

Jumat, 24 Agustus 2018 — 6:44 WIB
guyur

SIAL betul Mahadi, 46, dari Aceh ini. Kepala Bappeda, tapi tak ada harganya. Sedang kunjungi istri sirinya, Farida, 37, malah dituduh berzina. Meski ada bukti buku siri, warga tak peduli. Hukum ada pun berlaku. Keduanya dipaksa jongkok dan kemudian byurrrr….. masing-masing disiram dua ember air comberan.

Sesuai dengan PP 10, PNS dilarang poligami. Sebab berbini lebih dari satu itu merupakan proyek padat modal. Jika pelakunya PNS, dikhawatirkan menyalah-gunakan jabatan untuk cari tambahana dana demi menghidupi bini keduanya. Tapi meski dilarang, banyak juga yang nekad lewat kawin siri. Sebab kawin siri itu bak SIM sementara, kendaraan halal dipacu 100 Km/jam, asal tak dibuat boncengan.

Sebetulnya Mahadi sudah berkeluarga dan memiliki sejumlah anak. Tapi sebagai Kepala Bappeda yang banyak duit, pikirannya mulai macem-macem. Terutama ketika melihat penampilan janda Farida, yang selama ini jadi anak buahnya. Setiap melihat janda nan seksi ini, nafsu Mahadi langsung mengerucut. Maklumlah, bodi Farida memang sekel nan cemekel.

Mahadi mencoba mendekati janda itu, sebagai atasan tentu saja peluangnya sangat banyak. Dari nada bicara dan gayanya, sepertinya dia memberi angin. Saat diajak WA-nan misalnya, Farida selalu merespon dengan baik. Maka sebulan sekali secara rutin Mahadi kirim pulsa Rp 100.000,- secara diam-diam.

Farida awalnya kaget juga ada pulsa nyasar. Sekali waktu dia bertanya pada Mahadi selaku bossnya, tapi jawabya pendek sambil senyum, “Taukkkkk…..!” O ya sudah, jelas itu yang kirim Mahadi atasannya di kantor. Batin Farida, sering-sering saja.

Berkat “sogokan” pulsa, Mahadi-Farida jadi makin akrab saja. Sepertinya staf honorer itu sudah memahami aspirasi urusan bawah Mahadi, dan sepertinya juga siap menerima. Ingin Mahadi menikahi, tapi sebagai PNS kan dilarang berbini dua. Jadi bagaimana akal? Masak sudah berkoalisi kok tanpa eksekusi.

Mahadi menawarkan opsi, bagaimana kalau nikah siri saja? Ternyata Farida tak keberatan, asal dijamin bonggol dan benggolnya. Ya sudah, diam-diam mereka kawin siri di Binjai Sumatra Utara. Habis itu Farida lalu dikontrakkan rumah di Dusun Buket, Gampong Paya Bujuk Seulemak, Kecamatan Langsa Baroe, Kota Langsa.

Karena nikah diam-diam, Mahadi tak berani terus terang pada keluarga dan kantornya. Resikonya, dia tak bisa mengunjungi Farida full seminggu 7 X 24 jam. Paling-paling merujuk resep obatnya dokter, 3 kali seminggu sesendok makan. Itu pun waktunya hanya beberapa jam.

Namanya kawin siri, baik Farida maupun Mahadi tak berani mendeklarasikan di depan warga. Karenanya warga Dusun Buket tahunya Farida sering diapeli cowok setengah baya sampai larut malam. Karena sudah terlalu sering menginap dengan segala akrtivitasnya, beberapa hari lalu pasangan itu digerebek.

Meski Mahadi menunjukkan bukti buki nikah siri, warga tak percaya. Mahadi-Farida dituduh berzina secara terstruktur dan bikin syurrr. Tanpa banyak kata, keduanya dipaksa jongkok di halaman rumah, untuk menjalani sanksi adat. Tak lama kemudian 2 ember air comberan, jangan-jangan “impor” dari kali Item, Jakarta, diguyurkan ke tubuh Mahadi-Farida. Meski sudah crindil (basah kuyup) masih ditambah lagi. “Mandi junub biar bersih,” kata warga.

Selesai menjalani hukum adat baru diserahkan ke polisi. Sesuai dengan Perda Qabun Jinayat, bukti siri Mahadi-Farida akan diusut keasliannya. Bila ternyata palsu, keduanya bisa kena hukum cambuk pantat.

Hajar terus sampai tepos! (TMC/Gunarso TS)