Monday, 19 November 2018

Agustusan, Asian Games, dan Kurban

Sabtu, 25 Agustus 2018 — 6:59 WIB
gajelaaaa

Oleh S Saiful Rahim

“INI barulah benar-benar meriah, tertib, dan astaghfirullah luar biasa,” kata seseorang yang masuk ke warung kopi Mas Wargo dengan pakaian necis dan bertopi seperti amtenar perkebunan teh atau kopi di zaman penjajahan Belanda dulu.

“Yang luar biasa itu apa? Tuan yang masuk ke warung tanpa mengucapkan assalamu alaykum atau ucapan salam lainnya? Seperti selamat sore atau ucapan salam lainlah,” sambar Dul Karung yang juga masuk, mengintil alias mengekor, di belakang orang tersebut, tanpa memberi salam pula.

“Dul Karung-Dul Karung, kamu menyalahkan orang yang masuk ke warung kopi ini tanpa memberi salam, padahal kamu pun tidak memberi salam,” kata orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang dengan aksen yang masih kentara orang seberang.

“Masak aku mau menegur harus memberi salam dulu? Ayam pun kalau mendengar hal itu akan tertawa,” sambar Dul Karung dengan nada tinggi.

“Sudah, sudah, sudah. Cukup! Yang tuan-tuan, terutama Tuan Dul ini, ingin tahu dari saya itu apa? Jangan berisik seperti burung kutilang mau tidur sore-sore. Saya jadi bingung,” tanya lelaki bertopi amtenar tersebut.

“Yang tuan anggap meriah, tertib, dan luar biasa tadi itu apa?” kata orang yang duduk di depan Mas Wargo mencoba menengahi.

“Yang saya kagumi dan saya anggap meriah, tertib, dan luar biasa itu adalah apa yang berturut-turut sudah saya saksikan di kota ini.”

“Ya, apa itu?” potong Dul Karung tak sabar.

“Yang meriah itu acara Agustusan. Yang tertib “Asian Games,” dan yang luar biasa adalah Idul Adha.

Acara dan upacara Agustusan itu diadakan di seluruh Indonesia, tapi berjalan dengan hidmat. Dan “Asian Games” itu pertandingan olahraga satu benua, tapi berlangsung dengan tertib. Dan Idul Adha adalah Lebaran penyembelihan ribuan hewan kurban yang dagingnya dibagikan kepada jutaan fakir miskin, tapi berjalan dengan baik. Itu kan amat luar biasa? Apalagi “Asian Games” ternyata telah mendorong maju gerak perekonomian Ibu Kota,” kata orang bertopi itu yang disambut anggukan kepala semua hadirin.

“Hei, mau ke mana kau, Dul?” tiba-tiba beberapa orang yang mengangguk-angguk itu bertanya kepada Dul Karung yang beranjak meninggalkan warung.

“Mau ambil bagian untuk lebih menyukseskan semua yang bangsa kita sudah raih di umur 73 tahun ini,” kata Dul Karung sambil melangkah sigap.

“Alaah Dul Karung. Paling juga mau ambil bagian daging kurban yang masih tersisa,” kata entah siapa mengundang tawa hadirin (Syahsr@gmail.com )