Saturday, 22 September 2018

Sebelum Resmi Tersangka Idrus Marham Mundur Duluan

Sabtu, 25 Agustus 2018 — 7:20 WIB
idrus

JIKA semua pejabat seperti Idrus Marham, penegakan hukum takkan bertele-tele. Kebanyakan pejabat, saat jadi tersangka KPK berkelit lewat praperadilan. Tapi Mensos Idrus Marham beda. Baru menerima Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) dari KPK, Idrus sudah merasa jadi tersangka. Langsung mundurlah dari Mensos.

Perkara dugaan suap PLTU Riau-1 atas Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih menyeret Mensos Idrus Marham. Saat Eni Saragih ditangkap KPK, dia berada di rumah dinas Idrus Marham. Karenanya politisi Golkar kepercayaan Setya Novanto itu jadi terbawa-bawa.

Beberapa kali Idrus Marham diperiksa KPK, sebagai saksi. Terakhir 15 Agustus lalu, kepada pers dia menegaskan, “Jadi kalau kita ingin lihat negara ini maju kita harus hormati proses hukum yang ada. Jangan ada intrik-intrik. Enggak boleh.”

Hal ini dibuktikannya secara konsekuen. Saat Kamis lalu menerima SPDP dari KPK, Idrus Marham sudah merasa dirinya bakal jadi tersangka. Bukanya baper, tapi itu wujud dari pertanggunganjawabnya sebagai pejabat negara. Tanpa panjang kata, Jumat kemarin langsung menghadap presiden dan menyatakan mundur sebagai Mensos, bahkan juga Golkar. Berarti hanya 7 bulan dia jadi Mensos, gantikan Khofifah Indarparawansa.

KPK sendiri kemarin merasa “keduluan” oleh sikap Idrus Marham yang ternyata sangat berbeda dengan pejabat kebanyakan. Ketika KPK baru kirim SPDP, karena mungkin alat buktinya belum cukup sampai dua buah, tahu-tahu Idrus Marham yang “nyelonong” menyatakan dirinya sudah tersangka KPK.

Sikap Idrus Marham ini perlu menjadi proyek percontohan pejabat negara. Kebanyakan pejabat kita, ketika menjadi tersangka KPK, buru-buru cari penngacara handal baik tingkat bakpao maupun hamburger, untuk praperadilan. Ada kalanya dia lolos (menang), tapi banyak pula yang berujung di LP Sukamiskin.

Setya Novanto adalah salah satu pejabat negara yang mencoba berkelit lewat pra peradilan, tapi kandas. Kini dia sudah “kepenak nggone” (tenang) berada di LP Sukamiskin karena terjerat kasus proyek e-KTP. Akankah Idrus Marham pada saatnya nanti juga menemani Setya Novanto di LP yang sama?

Setya Novanto-Idrus Marham ini memang selalu seiring sejalan sebagai politisi Golkar. Tahun 2003 mereka diduga mengakali pergudangan 60 ribu ton beras yang diimpor Inkud, dan menyebabkan kerugian negara Rp 122,5 miliar. Tapi kasusnya tak berlanjut. – gunarso ts