Friday, 21 September 2018

LAWAN BUKAN BERARTI MUSUH

Senin, 27 Agustus 2018 — 9:41 WIB

Oleh H.Harmoko

POSISI Indonesia di Asian Games masih aman, bahkan bisa disebut membanggakan. Target pemerintah masuk 10 besar, jika kodisinya seperti sekarang, rasanya bisa tercapai meskipun itu bukan pekerjaan mudah. Karena perjalanan belum berakhir.

Masih beberapa hari ke depan hingga penutupan pesta olahraga se Asia, pada 2 September 2018 nanti.

Terlepas dari soal keberhasilan para atlet Indonesia mengumpulkan medali, ada hal yang menarik. Di antaranya adalah keberhasilan atlet-atlet perempuan meraih medali emas untuk kontingen Indonesia. Bukan berarti kontingen pria kita tidak hebat dalam berjuang dan meraih prestasi terbaik.

Namun kali ini memang perlu menjadi pengingat, bahwa tiga emas pertama yang diraih Indonesia dalam ajang Asian Games 2018, disumbangkan atlet perempuan. Sejarah memang sering berulang, keadaan ini juga bisa dibilang mengulang peristiwa 56 tahun silam. Saat Indonesia menjadi tuan rumah untuk pertama kalinya, emas pertamanya disumbangkan oleh atlet perempuan.

Lebih istimewa lagi, itulah raihan medali emas pertama yang dikalungkan kepada atlet Indonesia sejak ikut Asian Games pertama tahun 1951 di New Dehli, India. Pada saat itu tim bulutangkis beregu putri yang beranggotakan Minarni, Retno Kustijah, Goei Kiok Nio, Corry Kawilarang dan Happi Herowati berhasil mengandaskan tim Malaysia. Bahkan Retno dan Minarni menambah emas setelah terjadi All Indonesia Final menghadapi teman satu tim Corry Kawilarang dan Happy Herowati.

Kini setelah 56 tahun berlalu, peristiwa itu terjadi lagi. Saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games, kilauan emas-emas medali itu juga datang dari para Srikandi andalan Indonesia. Defia Rosmaniar dengan gerakan perkasanya menyumbangkan emas dari cabang Taekwondo, setelah itu Lindswell Kwok dengan gerakan tangkas nan indah berhasil menyumbangkan emas dari Wushu dan Tiara Andiri Prastika dengan keberaniannya menuruni bukit untuk medali emas dari cabang sepeda gunung. Baru setelah itu emas-emas lain termasuk dari srikandi pemanjat tebing Aries Susanti Rahayu dan lainnya.

Saya termasuk orang yang beruntung bisa mengalami dan menikmati dua peristiwa bersejarah itu, baik Asian Games 1962 dan 2018 ini. Tapi dari semua yang saya rasakan itu, besar harapan saya bahwa spirit olahraga saat itu dan kini akan menular pada kegiatan lain di Indonesia.

Bukan sekadar soal atlet perempuan atau lelaki, emas, perak atau perunggu, tapi lebih dari itu. Yakni menyangkut soal kepentingan bangsa. Urusan politik, kini Indonesia sudah masuk dalam detik tegang itu. Menjelang Pilpres dan Pileg 2019. Setidaknya saat ini kita rasakan, atau harapkan gegap gempita olahraga terbesar di Asia ini sudah mampu membuat jeda temperatur politik yang menghangat. Spirit olahraga yang sportif diharapkan akan membawa suasana politik tetap nyaman meskipun panas. Tetap harus berhadapan tetapi tidak mesti dengan kebencian dan dendam. Jiwa, filsafat, dan semangat di dunia olahraga, yakni “lawan bukan berarti musuh,” kita harapkan tertularkan ke dunia politik. Panasnya persaingan di lapangan akan berakhir bersamaan dengan selesainya pertandingan. Itulah olahraga.

Esensi dari persaingan dalam pertandingan olahraga tidak pernah diwarnai saling mencaci, saling memfitnah dan tindakan kotor lain. Semua ada aturannya dan ditaati oleh stakeholder olahraga. Semua berakhir setelah hitungan selesai dan bersalaman. Bahkan gelora pertandingan sepakbola yang seakan-akan mampu memecah arena, tidak pernah mengeroyok satu wasit yang bicara dengan peluitnya. Mereka, para suporter, simpatisan, dan apa pun namanya, tidak akan “menghabisi ramai-ramai” apabila peluitnya menghukum tim yang didukung atau dijagokannya.

Alangkah indahnya bila kelak spirit dan sportivitas olahraga Asian Games 2018 akan menjalar pada ajang demokrasi kita di Pilpres 2019 mendatang. Itulah harapan kita dan juga harapan seluruh bangsa. Siapapun yang menang itulah pilihan rakyat yang diharapkan tampil menjadi pemimpin yang menyejahterakan rakyat dan bangsa .*