Wednesday, 21 November 2018

Tak Henti Menggempur Narkoba

Selasa, 28 Agustus 2018 — 4:57 WIB

TIDAK kurang dari 20 ribu butir naroba jenis pil happy hive, disita aparat Polda Metro Jaya dari tangan seorang pengedar yang menyamar sebagai pengemudi ojek online (ojol). Pil memabukkan tersebut rencananya akan dipasarkan ke tempat hiburan malam.

Jumlah ini bisa jadi hanya bagian kecil saja yang terungkap, sementara yang telah beredar di pasaran disinyalir jauh lebih besar. Tebukti, dalam dua bulan ini puluhan ribul pil happy five disita aparat di sejumlah daerah antara lain di Bengkalis (Riau), serta di Aceh. Jaringan yang memasok, yaitu mafia Malaysia-Riau-Aceh.

Hampir setiap hari aparat Polri maupun BNN mengungkap penangkapan tersangka kasus narkoba dan membongkar jaringannya di berbagai daerah. Berton-ton barang laknat seperti shabu, pil ekstasi serta aneka jenis turunannya juga disita. Tapi mafia internasional tak berhenti menyerbu dengan berbagai modus.

Fakta ini menunjukkan, Indonesia memang ‘surga’ pangsa pasar yang menggiurkan bagi kartel-kartel internasional. Jaringan internasional seperti seperti mafia China-Malaysia-Indonesia, Taiwan-Malaysia-Indonesia dan kelompok lainnya tidak berhenti menggempur. Itu sebabnya, bisnis narkotika dinilai bukan sebatas bisnis semata, melainkan juga taktik ‘perang candu’ menaklukkan suatu bangsa dengan meruntuhkan generasi muda.

Narkoba terus berevolusi dengan turunannya. Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat, akhir tahun 2017 ada 68 jenis narkoba di Indonesia. Tahun ini meningkat menjadi 71 jenis, baik berbentuk tembakau, bubuk, kristal, krem, cairan, pil dan bentuk lainnya. Bahkan tidak sedikit yang berbentuk makanan misalnya permen, kue brownies, dan lainnya yang mengandung zat adiktif.

Ancaman hukuman mati, tak membuat ciut nyali sindikat narkotika. Mereka justru memutar otak menciptakan barang laknat jenis baru guna mencari celah lolos dari jerat UU Narkotika Nomor 35 Tahun 2009.

Oleh karena itu semua komponen masyarakat, bukan hanya kepolisian, jangan kalah langkah. Sebagai catatan, saat ini lebih dari 5 juta penduduk Indonesia dari berbagai kalangan menjadi pecandu narkoba.

Langkah preventif berupa pencegahan lebih bermanfaat sebelum banyak yang menjadi korban. Itu sebabnya harus terus dibangun kesadaran bersama, guna meningkatkan aware atau rasa peduli semua komponen masyarakat. Mari selamatkan generasi kita dari kekejian narkoba. **