Friday, 23 August 2019

Asian Games 2018 Bawa eSports Asia Selangkah Lebih Maju

Rabu, 29 Agustus 2018 — 20:59 WIB
Kiri ke kanan: Eddy Lim (President ESport Association of Indonesia), Santi Lonthong (Executive Board Member of AESF) Kenneth Fok (President of the Asian ESports Federation), Lokesh Suji (VP of the Asian ESports Federation), dan Eric Yeung Chuen Sing (President ESports Association of Hong Kong). (junius)

Kiri ke kanan: Eddy Lim (President ESport Association of Indonesia), Santi Lonthong (Executive Board Member of AESF) Kenneth Fok (President of the Asian ESports Federation), Lokesh Suji (VP of the Asian ESports Federation), dan Eric Yeung Chuen Sing (President ESports Association of Hong Kong). (junius)

JAKARTA – Cabang olahraga (cabor) elektronik (e-Sports) mendapat panggung pertama kali pada Asian Games 2018. Tak pelak mengundang banyak perhatian masyarakat.

Cabor permainan kompetitif tersebut mempertandingan enam nomor yakni Arena of Valor, Clash Royale, Hearthstone, League of Legends, Pro Evolution Soccer, dan Starcraft II, dan mulai dipertandingkan pada Minggu (26/8/2018) dengan 18 negara peserta.

Presiden Asian Electronic Sports Federation (AESF), Kenneth Fok mengaku pihaknya telah memperjuangkan cabor ini kepada  Olympic Council of Asia (OCA) dan Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (Inasgoc) sehingga dapat dipertandingkan pada pesta olahraga terakbar se-Asia.

“Selama empat tahun kami berusaha dengan membuat workshop, demonstrasi dan ekshibisi demi meyakinkan OCA (Olympic Council of Asia) mengenai cabang olahraga kami. Sampai pada akhirnya komite olimpiade beberapa negara turut membantu kami. Kami berharap, talenta-talenta terbaik Asia semakin terasah kemampuannya dengan bertanding pada Asian Games,” kata Fok, Rabu (29/8/2018).

Fok mengutarakan bahwa eSports dapat menjadi energi bagi Asia dan juga dunia olahraga. Melalui Asian Games 2018 juga diharapkan para atlet dapat meningkatkan kepercayaan dirinya, bahkan eSports dapat menjadi jenis karir baru bagi generasi mendatang. Selain itu juga diharapkan dapat menjadi sarana persatuan.

“Perlu diketahui bahwa atlet eSports sangat bahagia karena pada gelar atlet sudah disematkan di setiap kartu penanda atau ID mereka. Hal tersebut jelas membawa kebanggaan, bahkan mereka pun mengundang rasa penasaran untuk berdiskusi dari atlet-atlet cabang olahraga lainnya,” ujar Lokesh Suji, Wakil Presiden AESF.

Sebanyak 150 atlet berpartisipasi di Asian Games 2018, tak hanya atlet laki-laki, banyak juga perempuan yang bertarung di arena olahraga paling bergengsi di benua Asia.

“Salah satu yang telah dilakukan oleh pemerintah Thailand adalah membuat kompetisi terpisah khusus perempuan, agar ekosistem atlet eSports bagi kaum hawa selalu berkembang dan mampu melahirkan banyak atlet baru,” ucap Santi Lothong, Executive Board Member of AESF.

Kedepannya, AESF akan bekerja sama dengan pemangku kepentingan terkait untuk dapat meningkatkan partisipasi atlet perempuan dalam kompetisi eSports.

Menjadi atlet eSports tak semudah yang dibayangkan. Tentu banyak cerita para atlet yang dulunya tidak pernah didukung oleh orang tuanya dalam berbagai kompetisi yang ia ikuti, hingga akhirnya terpilih untuk mewakili negaranya dalam ajang kompetisi internasional.

Orang tua perlu mendapatkan pengarahan lebih rinci, baik mengenai cabang olahraga ini, maupun keterlibatan atlet yang mampu membawa nama negara. Saat ini AESF juga menjalin kerjasama dengan berbagai universitas dalam membuat kurikulum berbasis eSports.

“Kita tidak boleh hanya melihat sisi negatif saja dari game. Terdapat nilai-nilai olimpiade yang dapat kita ambil dari game-game ini, yang dapat ditanamkan pada setiap atlet eSports. Tentunya, terdapat kendala dalam menjadikan game sebagai olahraga, yakni pandangan negatif dari masyarakat, juga melihat anak-anak bangsa ini menjadi kecanduan bermain game. Kita perlu mempersiapkan bagi mereka yang ingin menjadi seorang atlet, yakni sejak ia berada di bangku SMA, lalu masuk ke jurusan yang sesuai di universitasnya. Ini yang sedang kami usahakan bersama pemerintah, dan juga universitas di Indonesia,” jelas Presiden Asosiasi eSports Indonesia, Eddy Lim.

Eric Yeun Cuen Sing, President of eSports Association Hong Kong, mengatakan bahwa pemerintah Hong Kong bahkan menginvestasikan lebih dari US$13 untuk membangun ekosistem eSports yang unggul bagi para atletnya. “eSports tak hanya tentang games saja . Ini terkait kemajuan teknologi sebuah bangsa. Maka tidak heran kami mampu menyelenggarakan sebuah event Mega Esports yang memiliki 7,4 juta pengunjung online selama dua hari penyelenggaraan,” ucap Eric.

Jelas benua Asia adalah katalis eSports di dunia. Mari kita nikmati kejuaraan tersebut secara langsung di Arena Britama Kelapa Gading hingga 1 September 2018. (junius/ys)