Thursday, 20 September 2018

Perempuan Hong Kong Disuruh ‘Pura-Pura’ Menikah di Cina Ternyata Menikah Sungguhan

Kamis, 30 Agustus 2018 — 16:47 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

HONG KONG– Seorang perempuan berusia 21 tahun asal Hong Kong mengatakan telah ditipu untuk menikahi seseorang yang sama sekali tidak ia kenal.

Awalnya perempuan itu diminta untuk berperan sebagai model pengantin perempuan dalam peragaan pernikahan sebagai bagian dari latihan untuk menjadi perencana dan penyelenggaraan pesta perkawinan.

Ternyata, saat upacara pernikahan yang disebut “pura-pura” itu, ia dan lelaki yang disebut pemeran pengantin pria itu menandatangani dokumen pernikahan asli.

Ia baru menyadari bahwa dirinya ternyata benar-benar menikah setelah diberitahu temannya saat kembali ke Hong Kong.

Ia lapor ke polisi, namun polisi mengatakan tidak dapat bertindak jauh karena dianggap tidak cukup bukti mengenai terjadinya kejahatan, sehingga ia mengadu ke Federasi Serikat Buruh Hong Kong (FTU).

“Ini adalah bentuk baru penipuan pernikahan,” kata Tong Kamgyiu, seorang direktur FTU, kepada BBC.

“Sungguh susah dipercaya bahwa hal itu bisa terjadi bahkan di dunia modern Hong Kong.”
Dipedaya untuk izin tinggal

Bulan Mei lalu, perempuan berusia 21 tahun – yang tidak disebutkan namanya – melihat lowongan di Facebook untuk magang sebagai seorang penata rias.

Namun setelah melamar posisi itu, oleh perusahaan itu ia dialihkan ke pekerjaan perencana pesta pernikahan

Ia memperoleh pelatihan gratis selama seminggu di Hong Kong dan diperintahkan untuk turut serta dalam sebuah acara simulasi pernikahan Juli lalu di Provinsi Fuzhou, Cina agar bisa lulus pelatihan.

Ia pun berangkat ke Cina, dan dalam apa yang disangkanya sebagai bagian dari pelatihan, ia menandatangani dokumen permohonan pernikahan di sebuah kantor pemerintahan setempat.

Menurut harian South China Morning Post, perusahaan itu meyakinkannya bahwa akta pernikahan itu tidak akan berlaku kendati ia menandatanganinya.

Tapi setelah kembali ke Hong Kong, seorang teman sekelasnya memastikan bahwa ia sudah jadi korban penipuan.

Akibatnya, statusnya kini menikah dan mungkin harus mengajukan cerai. Tidak jelas siapa pria yang dinikahinya, dan apakah lelaki itu sudah datang ke Hong Kong setelah “menikah”.

“Perempuan berusia 21 tahun itu telah dipedaya padahal ia tidak tahu apa-apa tentang hal itu,” kata Tong.

“Kerugian terbesar yang dideritanya adalah ia kini dalam status menikah dan itu menyebabkan kondisi psikologisnya terganggu.”

Setiap tahun, polisi Hong Kong menangani rata-rata 1.000 kasus penipuan pernikahan antar negara.

Maraknya penipuan pernikahan itu karena ada ketentuan di Cina bahwa warga Cina yang menikah dengan pasangan dari Hong Kong dapat mengajukan permohonan untuk tinggal di kota otonom itu. (BBC)