Wednesday, 14 November 2018

Seleksi Caleg Bekas Koruptor Tergantung Kepekaan Pemilih

Sabtu, 1 September 2018 — 7:19 WIB
jaring

SIA-SIA saja KPU menjegal politisi eks napi korupsi untuk ikut Nyaleg. Sebab Bawaslu dan Panwaslu ternyata tak mendukung, dengan alasan PKPU bertentangan dengan UU. Sedikitnya 6 eks napi korupsi diloloskan ikut Nyaleg. Maka seleksi terakhir tinggal pada rakyat pemilih, mereka punya kepekaan tidak terhadap eks koruptor.

Mencuri hati seorang kekasih, adalah prestasi dalam dunia asmara. Tapi kalau mencuri uang negara? Itu prestasi buruk seorang anak manusia, ketika dipercaya untuk pegang kekuasaan baik di lembaga eksekutif maupun legislatif.

Sesuai ajaran agama apapun, sedari kecil orangtua selalu mengajari pada anak-anaknya, jadilah orang jujur, jangan mencuri. Sebab mencuri itu merugikan pihak lain. Jika yang dicuri harta pribadi, hanya merugikan keluarga korban. Tapi jika yang dicuri (korupsi) uang negara, rakyatlah yang akan menjadi korban. Sebab tujuan negara untuk mensejahterakan rakyatnya jadi terganggu.

Tapi di era gombalisasi ini, mencuri harta negara bukan lagi hal memalukan. Bahkan MK pun lewat uji materi seseorang, kemudian bikin norma hukum bahwa eks koruptor boleh Nyaleg atau ikut Pilkada asal bersedia mensosialisasikan bahwa dirinya eks koruptor.

Bila ingat nasihat orangtua dan agama, eks napi korupsi mestinya malu ikut Pilkada atau Nyaleg. Tapi gara-gara UU-nya mengizinkan, para eks napi korupotor jadi percaya diri. Percuma saja KPU bikin PKPU (Peraturan Komisi Pemilihan Umum), karena mereka dibela Bawaslu dan Panwaslu.

Hingga hari ini sedikitnya ada 6 eks napi koruptor diloloskkan Bawaslu berbagai daerah. Awalnya sudah digagalkan KPU dengan alasan TMS (Tidak Memenuhi Syarat). Tapi ternyata ketika gugat ke Bawaslu, dimenangkannya. Berkipaslah sekarang.

Seleksi terakhir kini tinggal pada rakyat selaku pemilih. Masih punya kepekaan atau tidak mereka. Jika masih menyadari bahwa korupsi musuh negara, tidak akan sudilah rakyat mencoblos Caleg bekas napi koruptor. Sebab gara-gara ulah para maling uang negara, rakyat terus banyak yang hidup miskin, karena kemampuan negara untuk sejahterakan rakyatnya terganggu. – gunarso ts