Sunday, 18 November 2018

Semula Ditarik Kapal Kemerdekaan

Misteri Kapal ‘Hantu’ Sam Ratulangi Terpecahkan

Senin, 3 September 2018 — 10:54 WIB
samratu

MYANMAR –  Kapal ‘hantu’ Sam Ratulangi yang sempat hilang satu dekade di lau ditemukan kanda di atas gundukan pasir lepas pantai desa Thma Seitta.

Rusia Today menyebutkan, kapal tersebut ditemukan pertama kali oleh nelayan yang kemudian melapor ke polisi, penjaga pantai dan angkatan laut.

Selanjutnya, mereka memberanikan diri naik ke kapal tersebut untuk melakukan pemeriksaan.

“Tidak ada awak atau kargo yang ditemukan di kapal. Cukup membingungkan bagaimana kapal besar itu muncul di perairan kami,” kata Ne Win Yangon, anggota parlemen lokal untuk kota Thongwa.

Berdasarkan investigasi tim gabungan, kapal tersebut memunyai panjang 177,35 meter, lebar 27,91 meter, dan berat 26.510 ton. Kapal tersebut dilaporkan telah berlayar memakai bendera Indonesia dan terakhir terlihat di Taiwan tahun 2009.

(Baca : Kapal ‘Hantu’ Tanpa Awak Terdampar di Myanmar)

Sementara itu, BBC mewartakan pada Sabtu (1/9/2018), Angkatan Laut Myanmar menyebut kapal barang tersebut awalnya ditarik oleh kapal penarik atau tugboat menuju industri pemecah kapal di Bangladesh.

Dari catatan radar Angkatan Udara Myanmar, menunjukkan ada pergerakan dua kapal di sungai Yangon dan Sittaung yang masuk ke Teluk Martaban.

Berdasarkan temuan itu, pasukan kemudian menjelajahi perairan untuk mencari kapal kedua. Kemudian ditemukan sebuah kapal lain bernama Kemerdekaan yang mengangkut 13 awak dari Indonesia. Mereka ditemukan berada sekitar 80 kilometer dari pantai Yangon.

Diwartakan AFP, setelah menginterogasi para awak dari Indonesia itu, Angkatan Udara Myanmar mendapat informasi bahwa Kapal Kemerdekaan meninggalkan Jakarta pada 13 Agustus 2018.

“Mereka menghadapi cuaca buruk ketika sampai di selatan Sungai Yangon,” pernyataan Angkatan Udara Myanmar seperti dikutip AFP.

 Akibat cuaca buruk itu, kabel yang terikat di kapal rusak. Kapal akhirnya mengapung dalam arus dan sulit melanjutkan perjalanan, demikian pernyataan Angkatan Udara Myanmar.(tri)